Tentang Kesepian Kita

January 31, 2009 at 4:18 am | In asmara, hidup, tanya | 3 Comments

Hanya tentang kehilangan. Aku tak tahu. Tak mengerti. Jarak. Aku terhempas jauh dari kewarasan. Mungkin bukan gila. Hanya menderita. Dan hanya tentang kehilangan.

Pengalan demi pengalan kalimat aku tak tau lagi bagaimana menyusunnya. Yang aku peduli hanya bagiamana caranya berbahagia. Sedang aku harus selalu ingat bahwa aku hanya berdiri sendiri dan dunia yang harus aku lawan.

Baiklah!

Bila seorang wartawan kere dan kesepian melamar perempuan yang kebetulan sendirian, maka apalah yang pantas di katakan. Kebahagian hanyalah untuk dilupakan. Kau bilang jangan mencari kebahagian, seperti halnya kau mencari Tuhan, karena tidak akan pernah kau temukan. Kehadirannya hanya bisa kau rasakan, katamu.

Dahulu kau juga pernah kerkata, dua orang yang saling mencintai dan memutuskan untuk hidup bersama, berarti mereka adalah pengecut yang takut hidup sendiri. Saat ini aku lebih suka kalimat ini daripada pinangan itu. Mungkin hidup dalam kekosongan lebih nyaman.

Sayang, detik ini aku mengerti sejauh mana uang bisa menjadi berati. Dan suatu saat aku berharap bisa memahami perlukah harga diri dan martabat diperjuangkan?

Dan akuragu, telahkan aku berbahagia, atau mungkin saja aku tak pernah memulainya.

Semua hanya akan berakhir dengan kehilangan!

Thank You!

January 1, 2009 at 10:28 am | In hidup, manusia, pendapatku | 11 Comments

Saya cenderung punya pandangan yang berbeda dengan kebanyakan orang, lalu apakah itu berarti saya tidak normal? Tentu saja tidak! Itu menurut saya, saya hanya berbeda, ya hanya berbeda!

Ucapan “selamat tahun baru” atau “selamat ulang tahun” atau ucapan-ucapan yang sejenis bagi saya hanyalah basa-basi! Saya tidak pernah mengucapkannya kepada seseorang, namun bila yang bersangkutan memberikan ucapan terlebih dahulu, saya juga akan mengucapkannya sebagai ucapan balasan. Ironis kan?

Entahlah, menurut saya hal itu tidak perlu, apalagi untuk merayakannya.

Saya memang berbeda, dan hal itu tidak merugikan siapapun, tidak menyakiti siapapun.

Atau bila seandainya saya menjadi seorang ibu sebelum [tanpa] menikah itupun tidaklah aneh, hanya saja berbeda! Seorang ibu tetap saja harus mengandung selama 9 bulan, menyusui, merawat, dan melindungi anaknya.

Tetapi siapakah yang mengerti tentang perbedaan?? Perbedaan adalah dosa menurut kebanyakan orang. Maka sebaiknya dihindari dan dihukum!

Selain perbedaan siapa juga yang mengerti tentang “serakah”? Menurutku berpikir memiliki sepenuhnya gaji bulanan sendiri adalah sikap serakah, apalagi sampai membayangkan ingin menggunakan [utang] uang teman!

Dan satu lagi sebuah cerita murahan tentang keadilan. Menurutku yang berpotensi besar menindas sesamanya adalah pemalas! Bila kau bersama dengan seoarang pemalas dan bekerja sangat lambat pula, maka bersiaplah untuk ditindas, karena semua sisa pekerjaan yang belum terselesaikan akan menjadi tanggung jawabmu! Dan keesokkan harinya pemalas yang sangat lambat pula itu akan merasa telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, walau entah sadar atau tidak dia telah merenggut sebagian waktu senggang rekan kerjanya sehingga rekan kerjanya harus kehilangan waktu untuk membaca buku dan membaca beberapa entri baru di blogsphare. Yang seperti ini sialan kan?!

Ah, Thank You!

Ps: Judul posting ini saya comot dari jdul film korea yang saya tonton beberapa hari yang lalu. Tentang anak umur 7 tahun yang terkena AIDS karena transfusi darah.

Wanita

December 26, 2008 at 6:06 pm | In manusia, prasangka, protes, tanya | 20 Comments
Tags: , , ,

diana_011

Jadi wanita kadang cenderung lebih sarat dengan dosa, bagi yang tidak mampu menjaga amanah(?). Apakah apa yang ada pada wanita sesungguhnya adalah karya seni yang patut dipertontonkan pada umum. Tetapi wanita memang menarik untuk diexpos, buktinya saja banyak sekali dibahas tentang wanita, mulai dari majalah, berita, fashion (yang lebih dominan adalah untuk wanita). Herannya para perancang busana mendesian busana untuk wanita justru betujuan untuk menonjolkan lekuk tubuh dan sebagian besar bagian tubuh wanita. Sedangkan mendesain untuk laki-laki justru tertutup dan belapis-lapis, sudah pakai kemeja masih dilengkapi rompi atau jaket, dan jarang sekali laki-laki tampil mengenakan pakaian pedek, aneh ya..Padahal sebagian dari perancang busana adalah laki-laki, jadi siapa sesungguhnya yang mendorong wanita untuk berpenampilan seksi???

Jawabanya adalah laki-laki, kalau saja laki-laki cenderung menyukai wanita yang santun dalam segala hal pasti tidak akan mendorong wanita untuk tampil seksi.

Dan sesungghnya apa yang diharapkan wanita yang telah berhasil menarik perhatian laki-laki pada keindahan ‘bodynya’??

Gendjer-Gendjer

December 26, 2008 at 5:51 pm | In Tuhan, asmara, hidup, tanya | Leave a Comment
Tags: , ,

malam ini aku menunggumu, tak tau kenapa.
aku ingin berbincang, berdiskusi atau sekedar ingin dekat denganmu
meski bila dekat aku kan menemukan ketakutan baru
rupanya kau diciptakan dari kegelisanhanku
*aku tahu (k-K)au tak kan pernah hadir*

Tak sepadan, judul dan isinya tak sepadan. Gendjer-gendjer adalah judul lagu Jawa yang aku tak bisa menyanyikannya. Meski aku adalah orang Jawa. Sebenarnya apakah begitu penting untuk menjadi Jawa?
Begitu juga Raden Mas Minke pernah bertanya!

Mungkin dalam hari-hari ini aku akan lebih banyak mencatat, dan sedikit berbicara.

chairilanwar1

Tak Sepadan, oleh Chairil Anwar 1946

aku kawin beranak dan berbahagia
sedang aku mengembara serupa ahasveros
dikutuk disumpahi eros
aku merangkaki dinding buta
tak satu jua pintu terbuka
jadi lebih baik kita padami saja unggunan api ini
karena kau tak kan apa-apa
aku terpanggang tinggal rangka

Ternyata begitu banyak cara untuk menipu, dan begitu banyak pula cara untuk tertipu!

Antara Benar atau Salah

December 23, 2008 at 4:49 pm | In Indonesia, Tuhan, agama, hidup, manusia | 8 Comments
Tags: , ,

“Orang yang baik adalah orang yang berguna bagi orang lain”, kira-kira begitulah sabda Nabi Mohammad ketika ditanya salah satu umatnya siapakah orang yang baik di bumi ini.

Kenapa orang yang baik bukan orang yang selalu benar?? Pertanyaan besar bagi saya?

Lalu bagaimana dengan kasus Nur? Seorang pelacur dari Tulunggagung, yang kebetulan juga tempat kelahiran saya, kota yang tidak begitu saya sukai.

Dalam pandangan Goenawan Mohammad, Nur adalah Ibu Indonesia tahun 2008. Kenapa pula GM menobatkan Nur sedemikian terhormatnya? Bila menurut banyak orang  melacur adalah sesuatu yang sangat mengerikan?

Meski GM menyatakan bahwa Nur tidak pernah memilih menjadi pelacur, hal itu dilakukan juga. Demi ketiga anaknya, karena Nur ingin anaknya sekolah, agar anaknya menjadi lebih baik dari dia. Suatu pemikiran seorang ibu di negara-negara maju, atau karena Nur telah menyadari sesuatu, kebodohan, kemiskinan. Dimana hal itulah yang menciptakan dunia pelacuran, penderitaan dan sialnya,  kemiskinan seperti selalu memiliki wajah perempuan.

Nur tidak mengirim anaknya kepesantren atau yayasan. Karena Nur ingin mandiri, Nur hanya berbuat sesuatu dengan kemampuannya sendiri, menghidupi anak-anaknya tanpa menengadah kepada orang lain, tidak bergantung pada siapapun, bahkan juga tidak “bergantung” pada Tuhan.

Apakah Nur salah bila dia berguna bagi ketiga anaknya?

Agama tidak berdaya menghadapi hal semacam ini, begitu menurut GM. Mungkin GM bukan bermaksud menyerang agama, tetapi bertanya, apa yang “dilakukan” agama dalam kasus semacam ini? Adakah?

Yah, Nur adalah orang baik yang berdosa! Mungkin seperti itu.

Rindu yang Sia-sia

December 22, 2008 at 3:57 pm | In Tuhan, hidup, manusia | 6 Comments

Setelah lama tak posting sebernarnya aku tak ingin menabur sampah di blog ini! Sialan!! Tapi apa boleh buat aku sedang sakit, tak ada konsentrasi untuk menulis sesuatu meski bila sedang sehatpun postinganku juga gak mutu. Sialan!!

Rasanya ingin sekali mengumpat sepuasku. Tapi aku harus kontrol! Karena mengumpat terlalu banyak itu tidak baik :mrgreen: . Sialan!!

Tuhan, kenapa Kau selalu saja mengujiku? Kapankah giliranku boleh mengujiMu?

Orang tua dan saudara hanyalah sesuatu yang kebetulan

Tuhan sepertinya lupa menciptakan perasaan bagi kaum laki-laki

Aku ingin melupakan diriku sendiri

Rindu yang sia-sia

Rindu yang sia-sia

Rindu yang sia-sia

Tidak ada kopi yang tumpah

Hanya susu yang telah kering dari dada

 

Aku menangis!  Dan Tuhan masih saja ingin selalu dipatuhi!

Belajar Menjadi Manusia

November 11, 2008 at 8:03 am | In hidup, islam, manusia, tanya | 14 Comments

Saya adalah seorang gadis anak manusia yang saat ini telah merasa mampu menghidupi diri sendiri *halah narsis*. Eh, tapi entah esok.  :mrgreen: Aku juga manusia merdeka mampu menjaga hak-hakku dari orang-orang yang berpotensi menindasku *halah, nyatanya tertindas melulu*. Ya, menjadi manusia terhormat adalah bila dia mampu mempertahankan hak dan memenuhi kewajibannya. Lalu apakah hak dan kewajiban menjadi seorang manusia itu? Ah saya gak begitu tahu dan ndak akan saya bahas di sini, pasti bakalan jlimet.  :mrgreen:

Aku ingin menjadi seorang  manusia. Memangnya selama ini belum menjadi manusia apa? Ah belum, masih belajar. Kebetulan saja lahir menjadi manusia, mungkin kelakuan belum. Lalu dari sekian macam manusia, aku ingin jadi manusia macam apa? Manusia seutuhnya. Manusia yang utuh  tuh yang bagaimana? Sebenarnya saya gak tahu juga, tapi pokoknya yang gak jadi peliharaan sesamanya (kayak anjing aja peliharaan :-) ), manusia merdeka yang punya kehormatan. Manusia yang berkualitas *halah*.

Sebagai manusia merdeka aku berani menatap mata siapa saja, kecuali mata para pengemis yang berjajar di jalannan. Biasanya dengan langkah sok keren aku tetap berjalan dan pura-pura tak melihat mereka. Saat itu mungkin mereka mengutukku sebagai manusia biadab. Yah, aku memang biadab!!

Dalam hatiku berpikir, kita sama-sama manusia yang memiliki daya dan upaya untuk menghidupi diri kita masing-masing. Lalu kenapa kau tidak berusaha sendiri, mungkin saja kau hanya pemalas yang tak ingin bekerja. Adalah hakku untuk memberi atau tidak!

Dan sesungguhnya meski tak pernah kutatap, mereka sering juga aku pikirkan. Kemudian aku mulai memikirkan alasan lain, bagaiman bila ternyata mereka telah berupaya, tapi tak berdaya. Yah, lalu aku mulai lebih sering memikirkan mereka. Saat aku makan, saat aku tidur dengan kenyamanan, saat aku punya keinginan biadab beli rumah dan mobil. Aku merasa aku semakin biadab saja dengan keinginan itu.

Bukankah itu hakku untuk membelanjakan uangku. Tetapi sepertinya apa yang aku upayakan dan aku miliki tidak sepenuhnya menjadi hakku. Tidak cukup dengan membayar zakat untuk bisa menikmatinya dengan lapang dada, aku perlu sedikit egois!

Dengan demikian sesungguhnya aku mungkin tidak akan pernah menjadi manusia.

Aku pernah memberikan sebagian hartaku kepada seorang kawan. Ya, memberikan tanpa alasan, hanya karena rasa kemanusiaanku (menurutku memang aku punya rasa itu :-) ). Jumlahnya tidak banyak bagi sebagian orang, beberapa juta.

Nah, sebelumnya ada seorang kawan (cewek) yang mengingatkan (memberitahukan?), “sekali kau memberikan uang pada seseorang, niscaya akan ada yang kedua dan seterusnya..” Saat itu aku hanya mencibirinya, lalu kujawab, “kalau aku memang ada, ya kenapa tidak aku memberi!”.

Beberapa bulan kemudian hal itu benar terjadi. Bila saat pertama aku memberi tanpa pikir sama sekali, maka kedua kalinya aku gelisah. Berbagai pertanyaan menyerangku, berbagai macam teror mengancamku. Takut dia tergantung padakulah, takut hartaku semakin berkuranglah, takut.. macam-macam… lah. Tetapi aku juga takut bila kuburku nanti menyempit dan menghimpitku kuat-kuat.. (Saat seperti itu aku hanya berusaha untuk menjadi manusia yang lebih kejam, tetapi sangat sulit dilakukan)…

 

 

Hong Kong, 11 -11-2008 

3.55 pm

Surat Untuk Sang Penguasa

November 2, 2008 at 8:09 am | In Uncategorized | 16 Comments

Bismillah…

Tuhan yang baik, lagi ngapain?

Kau tahu kan aku ingin sekali bertanya tentang banyak hal kepadaMU. Dunia ini seolah sudah tak nyaman lagi untuk dihuni. Apakah Kau nyaman di tempatMU?

Kau di mana?

Tuhan, Kau tau juga kan bahwa akhir-akhir ini aku kurang begitu mesra padaMu, karena sesungguhnya aku… ah entahlah.. ampuni aku Tuhan..

Ya Allah, Ya Tuhanku, orang yang telah memecundangi aku, ingkar janji, berkhianat. Kulihat mereka tetap baik-baik saja.

Maka dari itu ya Tuhanku, aku juga ingin mencoba mengingkari ucapanku. Tetapi Kau tau, aku sulit sekali melakukannya..

Ya Tuhan, ternyata memutuskan sesuatu itu tidak mudah, berbuat baik itu tidak mudah.

Belakangan ini ya Tuhan, aku muak dengan banyak hal, segala sesuatu terasa hambar.. Entahlah..

Tuhan Yang Baik..

Aku Engkau ciptakan, Engkau hidupkan, Engkau matikan, dan akhirnya apalagi..?? NERAKA atau SURGA?? Permainan apa pula ini..

*lagi menyelesaikan membaca Tetralogi Buru bagian ketiga “Jejak Langkah”, salah satu cara mensiasati kengerian hidup ini.. *

Hal-Hal Yang Tertunda

October 7, 2008 at 2:30 pm | In asmara, hidup, prasangka | 19 Comments

Hari ini semua dosa telah tertebus
Semua khilaf telah termaafkan
Semua hal-hal yang tertunda telah selesai
Siapa yang salah dan benar tak penting lagi
Yang paling penting rasa kemanusiaan masih ada
Kewajibanku untuk masa lalu telah selesai hari ini
Terima kasih, Miming

*

Akhirnya kau kawin juga, lelaki keparattt.
Setelah kau…
Memperkosa kelembutanku
Melukai martabatku, harga diriku
Mencuri hak-hak ku
Menghapus kepercayaan tentang kesetiaan
Membuatku mencintaimu…dan menganiayaku dengan hal itu

Tapi entah terbalut lahar, gunung api, jurang tajam, keangkuhan, dendam, meski telah tenggelam dalam perut bumi, meski tak dapat kudengar suaramu lagi, meski telah ditumbuhi benci, cinta itu tetap ada di hati, tetap suci bersama lantunan doaku pada Illahi. Dan entah cinta macam apa???

Minta Maap, Kewajiban atau Kebutuhan?

September 30, 2008 at 3:27 am | In Idul Fitri, pendapatku, tanya | 5 Comments

“Memaapkan (mungkin) tidak bisa memperbaiki masa lalu, tapi pasti memperindah masa depan”. -Teguh Mario-

Maka bagi para pengujung mohon bermurah hati untuk memberikan maapnya atas segala kekeliruan dan kekhilapan saya.

Ya, hari raya Idul Fitri masih menjadi sarana yang saya manfaatkan untuk memulai hubungan yang lebih mesra dengan orang-orang yang pernah saya kenal. Saya memaapkan dan mereka juga demikian.

Saya ingat waktu di kampung dahulu, seolah hari raya Idul Fitri adalah puncak dari segala kebaikan. Segala sesuatu disiapkan untuk hari raya, rumah yang bersih, makanan yang lebih dari biasa, baju baru, bahkan minta maap dan memaapkan pun juga dipersiapkan untuk hari raya. Begitu istimewanya hari raya Idul Fitri.

Entahlah baik atau tidakkah terlalu mengistimewakan hari itu?

Dan ada pertanyaan di hati saya, apakah segala kesalahan pantas untuk dimaapkan? Memaapkan tanpa syarat?

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.