Bersama Sahabat

June 29, 2008 at 4:48 pm | In hidup, tanya | Leave a Comment

Makan siang bersama, suasana akrab semakin terasa. Ternyata bersahabat itu indah, berbagi bahagia, berbagi cerita, berbagi pengalaman, lalu mencatatnya sebagai peristiwa, yang kemudian kelak menjadi kenangan. Entah, berapa lama lagi kami akan bersama, makan, kuliah, duduk di perpustakaan menikmati buku pinjaman, jalan-jalan, dan berfoto…Ohh..mungkinkah kelak akan menjadi tua, dan peristiwa seperti ini tidak akan ada lagi? Tetapi bukankah nanti akan ada masa lain yang bahkan lebih indah lagi…
Masa apakah itu? Kapan? Dan di mana? Bersama siapa?

Itu rahasia Tuhan, memang begitulah Tuhan. Yah,..begitulah…! Kalau Tuhan tidak merahasiakan, mungkin hidup kurang indah.

Hari ini kami makan pizza, enak..gurih dan hmmm..aku suka kejunya..!!! Lembut dan wangi..!!

Kondisi meja sebelum makan, lumayan masih rapi dan bersih…

Mulai menyerang sasaran..

Aku…!!

Bersama kak Lulu *tapi aku diacungin ma pisau…hehe*

Nany..

Indonesia yang Aku Harapkan

June 27, 2008 at 9:27 am | In Indonesia, protes, tanya | Leave a Comment
Tags:

Bagaimanakah Indonesia yang aku harapakan?
Sebagai orang yang tak intelektual, aku menginginkan di Indonesia:

1. Tak ada pengagguran

2. Setiap kelurahan ada (punya) perpustakaan

3. Setiap tempat umum (pasar tradisional, pasar swalayan, warung makan, taman, tempat wisata, di pantai, dan sebagainya deh) disediakan tolilet umum yang bersih dan gratis (ada sabun cuci tangan, ada air keran untuk cuci tangan/muka, ada tisu yang bersih, ada pengering tangan). Tetapi sepertinya Indonesia tidak punya uang untuk bikin yang seperti itu. Jadi ya sulit juga cari toilet umum yang seperti itu.

4. Setiap kendaraan umum bersih dan ber AC. Himbauan untuk tidak merokok dan makan di angkutan umum sepertinya tidak bisa diterapkan, lha sopirnya saja kadang ngerokok..!!
Kalau saya yang punya Indonesia pasti akan mengeluarakan peraturan ” DILARANG MEROKOK, DENDA MAKSIMUM Rp 5 000.000 ATAU PENJARA 3 BULAN!”. Lalu peraturan itu akan diterapakan diseluruh angkutan umum di Indonesai, dan di seluruh tempat umum. Bagi yang ingin merokok, silahkan merokok di tolilet pribadi Anda. Tetapi sayangnya saya hanya numpang di Indonesia, di Indonesia tidak ada tempat untuk bersuara protes! Lapor kemana? sebagian besar aparatnya saja bejat, lagian hal ini tidak penting, tidak memberi keuntungan serupiahpun, mana mungkin saya akan digubris!!

5. Menyediakan banyak tempat sampah di tempat umum, dan menindak tegas setiap manusia yang membuang samaph tidak pada tempatnya. Nah yang ini dendanya juga lumayan besar. “JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN, DENDA RP 1.500.000 ATAU PENJARA 2 BULAN!” Hahaha…kalau ini diterapkan di Indonesia, mungkin pernjara kan penuh! Soalnya rakyatnya pada gak mau bersih, miskin lagi..apalagi saya, tapi saya orang miskin yang bersih!!

6. Tarip telepon dan internet di Indonesia, lebih murah. Agar komunikasi cepat, sehingga kinerja juga makin bagus. Dan yang paling penting merata, jangan cuma yang di kota saja ada jaringan telepon dan Internet. Di Hong Kong saja puncak gunung bisa dibangun gedung pencakar langit, masa untuk jaringan telepon dan internet saja Indonesia gak bisa. Tapi mungkin Indoneisa gak punya uang. Atau dikira orang kampung sana tidak perlu komunikasi, dan informasi??

7. Oya, saya juga ingin dipasar banyak ikan segar, juga seafood lainya, harus segar, mereka harus masih berenang-renang. Apa di Indonesia tidak ada lautan ya, orang Indonesia masih saja makan ikan air tawar, kalau tidak begitu, mereka makan ikan laut yang telah diasinkan. Lalu, ikan-ikan laut kemana? Bukankah ikan asin kalau sering dikomsumsi akan menyebabkan tekanan darah tinggi. Saya tidak suka makan ikan yang sudah amis, saya ingin minum sup ikan dan seafood segar, saya ingin setiap hari makan ikan dan seafood segar. Indonesia miskin ikan dan seafood kah?

8. ????

Untuk yang lainya, saya mikir dulu ya, apa yang saya harapkan untuk Indonesia, Tuhan sedang menunggu saya, Dia kekasih saya yang paling setia, saya harus selalu hadir bila Dia menunggu, soalnya kasihan, nanti Dia ngambek, saya yang repot! Tunggu saya Tuhan, saya sedang datang…!!

Dewasa?

June 21, 2008 at 11:47 pm | In asmara, hidup | 1 Comment

Kemaren, aku kirimkan pesan padamu, aku bilang bahwa aku telah tersakiti olehmu dan tak nyaman berbincang denganmu, maka demi melindungi diriku sebaiknya jalur komunikasi dihentikan dahulu. Bila aku telah kembali normal, mungkin aku akan menghubungimu. Dan aku juga bilang jangan kau balas pesanku itu. Kurang lebih begitulah isi pesanku.

Sebenarnya tujuan kirim pesan itu lebih pada ingin menguji seberapa dewasa dirimu, seberapa kau sayang padaku (seperti yang sering kau ucapkan). Dan ternyata, kau tak lebih dewasa dari aku (lucu), kau juga tak seberapa sayang padaku. Hal itu tercermin dari sikapmu menjawab pesanku, “ok lah.., ini juga pesanku yang terakhir kalau begitu. terimakasih. oya, kalau nanti aku dah ngumpulin duit dan dah bisa bayar semua utangku, aku akan kirim ke kamu. kalau kamu gak mengirimkan nomor rekening adikmu atau rekening kamu, maka akan kukirim ke alamat kamu, ke alamat tempat aku ngirim buku kemarin…terimakasih. slam. (lalu kau ketikkan nama lengkapmu)”.

Sikapmu sama saja dengan aku, bahkan lebih parah, kau mengatakan bahwa itu pesan terakhir darimu, sedang aku menyatakan untuk dihentikan sementara. Tiada yang dewasa diantara kita. Mungkin saja kau tersinggung, sebegitu mudahnya kau tersinggung. Dan kata sayang yang sering kau ucapkan adalah sangat tak sungguh-sungguh. Atau mungkin kau belum bisa menyayangi seseorang? Cara menyayangi saja kau belum tahu. Tapi tak apa, setiap manusia punya caranya sendiri mengekpresikan hal itu. Aku yang salah, kenapa terlalu peka perasaan.

Kita memang saling menyayangi, tetapi sejak awal aku katakan bahwa aku tidak mau berpacaran. Ikatan itu hanya ada nanti setalah menikah, tetapi meski tanpa ikatan jangan lantas kau berhianat (tetapi bukankah khianat itu boleh, halal?). Ah binggung saya!!??

Ekspresi cinta?
Sikap dewasa?

Bagiku istilah kuno ini, “cinta tak harus memiliki” masih tepat untuk diyakini. Menyayangi adalah sejauh mana usahamu untuk memberikan hal yang baik yang kau mampu, sejauh mana usahamu untuk membuatnya senang, bahagia, membantu memberikan solusi pada masalahnya?

Dan memiliki?
Yang satu ini masih belum berani (pantas) aku pikirkan. Apakah aku layak untuk memiliki (dimiliki) seseorang? Mungkin memilikiku sama halnya dengan mendapatkan musibah disepanjang hidupnya. Bagaimana tidak, perempuan seperti aku?
Hidup berpasangan mungkin tak mudah dijalani, atau mungkin sebenarnya juga tak serumit yang aku bayangkan? Tetapi aku tak pernah ingin mencoba, aku harus total menjalaninya kelak, bukan untuk dicoba! Benarkah pemikiranku?

Beberapa hari ini aku tidak membaca Yasin untukmu karena aku masih kalut, yang sebelumnya sehari sekali aku akan membacakan Yasin untukmu (meski kau tak pernah minta aku membacakannya) . Mungkin nanti aku akan berpuasa, dan tentu saja akan selalu berdoa, agar Tuhan memberikan keajaibanNya, kesembuhan pada sakit kepalamu. Begitulah aku menyayangimu, mungkin tak ideal, tetapi itu semaksimal yang mampu aku lakukan demi dirimu, agar kau bahagia, agar kau selalu sehat. Dan sikapmu padaku? Itu tak penting lagi, karena menyayangi bisa jadi adalah urusanku dengan Tuhan.

Sebenarnya masih ada yang tertinggal dihatiku untuk kusampaikan padamu, tetapi tak mampu keluar, biar saja, nanti kau akan tau juga (semoga).

Karena aku tak ingin kau mendapatkan musibah (perempuan sepertiku), juga karena aku tau tak layak untukmu, maka aku ingin menjauh darimu. Sejauh aku mampu pergi darimu. Dan pergi bukan berarti meninggalkan.

Cinta

June 21, 2008 at 1:30 pm | In asmara, nglantur | Leave a Comment

Cinta adalah anugerah Illahi pada makhluknya. Mungkin setiap cinta terlahir suci (atau mungkin saja tidak?)

Tetapi cinta jarang sekali memberikan petunjuk, cinta justru sering kali menyesatkan. Hal itu karena cinta hampir selalu digandengi nafsu. Lihat saja berapa manusia di dunia ini yang telah tersesat karena cinta. Cinta yang seharusnya ditempatkan ditempat yang halal, dijaga kesucianya, justru di labuhkan pada tempat yang terlarnag, misalnya pacaran, perselingkuhan. Jarang sekali manusia yang mampu mengendalikan nafsu dalam cinta, sebenarnya nafsu manusia selalu lebih besar daripada cinta yang sesungguhnya, yaitu cinta yang tulus.

Dan manusia adalah mahlukNya yang paling mulia. Aku tercipta sebagai manusia, makhluk ciptaanNya yang mulia telah dianugerahkan cinta oleh Nya. Cinta yang membawa kebahagiaan, ketentraman, mendewasakan, keindahan,dan tentu saja nikmat. Cinta, aku mencintainya, lelaki itu, dia soleh dan berilmu. Tetapi dia tidak pernah tau, aku selalu rindu, aku selalu berdoa untuknya, aku selalu khawatir padanya…ahh..tetapi aku tak berani berharap memilikinya. Lelaki bukan poperty milik pribadi, dan bukan hanya itu alasannya, karena aku tak pantas untuk dia. Tetapi cinta akan tetap ku biarkan liar di hatiku, biar saja tetap hidup di sanubariku, biar saja tetap hidup dalam setiap doa-doaku. Dan biarkan saja cinta tetap bertempur dengan kenyataan hidupku.

Cinta, anugerah Tuhan yang suci, hanya di tempat yang halal-lah singgasanamu. Ialah pernikahan, atau dalam hati, atau dalam doa-doa, atau dalam persabatan, atau dalam persaudaraan!

Meski banyak manusia yang menempatkan cinta di tempat yang terlarang, misalnya di dalam pacaran, kumpul kebo, perselingkuhan. Dan memang setiap manusia berhak mendefinisikan hal ini dengan semena-mena! Atau dengan kata lain, setiap manusia memiliki jalannya sendiri-sendiri! Di muka bumi ini hampir bisa dihitung dengan jari dua manusia tidak berpacaran setelah saling jatuh cinta. Aku sendiri pernah tiga tahun berpacaran, dan tak dapat dipungkiri “tersesat” memang nikmat. Dan aku berjanji hal itu tak kan terulang kembali.

*contoh “tersesat” menurut salah seorang temanku adalah “berdua” bersama pacar dengan saling bertatapan, atau dengan mata setengah terpejam*

Malam

June 19, 2008 at 6:01 pm | In hidup | Leave a Comment

Kadang diam adalah sikap yang sangat nyaman, diam dan hanya mendengarkan, diam..

Sobat…aku sangat cenggeng, sebenarnya aku ingin diam, tapi tak ingin sendiri. Ku tak ingin mengeluh. Aku hanya sedang berusaha meringkus emosi jiwaku pada susunan kalimat ini, mungkin akan bikin km sebel saja…ah biarlah.

Kepalaku terasa berat, tetapi tak jua menunduk dan sujud…

Aku kecewa pada diriku, kenapa tak mampu menetralkan emosi, aku bukan pemarah, hanya saja aku kecewa pada diriku yang terlalu peka..

Kadang aku benci pada malam, malam yang tak memberiku mimpi…

Ahh..tiba-tiba ku juga benci padamu, kau orang yang pintar dan telah banyak membaca, itu berarti jarak kita semakin jauh, maka aku kan tertinggal di bawah, di titik minus seribu. Dan aku bukan tak ingin berjalan, hanya saja aku selalu gagal mengeja setiap peristiwa, lalu aku hanya bisa menangis dan diam, tetapi aku tak ingin sendiri..

Kenapa harus padamu aku keluhkan kesah ini?

ahh..ini tak ada jawaban.

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.