Cinta

June 21, 2008 at 1:30 pm | In asmara, nglantur | Leave a Comment

Cinta adalah anugerah Illahi pada makhluknya. Mungkin setiap cinta terlahir suci (atau mungkin saja tidak?)

Tetapi cinta jarang sekali memberikan petunjuk, cinta justru sering kali menyesatkan. Hal itu karena cinta hampir selalu digandengi nafsu. Lihat saja berapa manusia di dunia ini yang telah tersesat karena cinta. Cinta yang seharusnya ditempatkan ditempat yang halal, dijaga kesucianya, justru di labuhkan pada tempat yang terlarnag, misalnya pacaran, perselingkuhan. Jarang sekali manusia yang mampu mengendalikan nafsu dalam cinta, sebenarnya nafsu manusia selalu lebih besar daripada cinta yang sesungguhnya, yaitu cinta yang tulus.

Dan manusia adalah mahlukNya yang paling mulia. Aku tercipta sebagai manusia, makhluk ciptaanNya yang mulia telah dianugerahkan cinta oleh Nya. Cinta yang membawa kebahagiaan, ketentraman, mendewasakan, keindahan,dan tentu saja nikmat. Cinta, aku mencintainya, lelaki itu, dia soleh dan berilmu. Tetapi dia tidak pernah tau, aku selalu rindu, aku selalu berdoa untuknya, aku selalu khawatir padanya…ahh..tetapi aku tak berani berharap memilikinya. Lelaki bukan poperty milik pribadi, dan bukan hanya itu alasannya, karena aku tak pantas untuk dia. Tetapi cinta akan tetap ku biarkan liar di hatiku, biar saja tetap hidup di sanubariku, biar saja tetap hidup dalam setiap doa-doaku. Dan biarkan saja cinta tetap bertempur dengan kenyataan hidupku.

Cinta, anugerah Tuhan yang suci, hanya di tempat yang halal-lah singgasanamu. Ialah pernikahan, atau dalam hati, atau dalam doa-doa, atau dalam persabatan, atau dalam persaudaraan!

Meski banyak manusia yang menempatkan cinta di tempat yang terlarang, misalnya di dalam pacaran, kumpul kebo, perselingkuhan. Dan memang setiap manusia berhak mendefinisikan hal ini dengan semena-mena! Atau dengan kata lain, setiap manusia memiliki jalannya sendiri-sendiri! Di muka bumi ini hampir bisa dihitung dengan jari dua manusia tidak berpacaran setelah saling jatuh cinta. Aku sendiri pernah tiga tahun berpacaran, dan tak dapat dipungkiri “tersesat” memang nikmat. Dan aku berjanji hal itu tak kan terulang kembali.

*contoh “tersesat” menurut salah seorang temanku adalah “berdua” bersama pacar dengan saling bertatapan, atau dengan mata setengah terpejam*

No Comments Yet »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.