Tentang Mahasiswa Yang tak Diakui
July 30, 2008 at 5:04 pm | In Indonesia, hidup, pendapatku, protes | Leave a CommentBagaimana anda memandang pendidikan, apakah anda pernah memikirkan untuk membantu kelangsunganya, membantu bagaimana agar saudara, dan semua warga Indoesia dapat menikmatiya.
Di sini akan saya ambil contoh kiprah para TKW yang ngampus di wilayah Hong Kong. Sambil bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sebagaian dari para TKW Indonesia ini pergi kesebuah gedung yang terletak di belakang stadium sepak bola Causway Bay, untuk mendapatkan pengajaran dari sang dosen.
Saya sendiri salut atas berlangsungnya kegiatan ini, karena disela waktu libur mereka gunakan untuk menuntut ilmu, demikian juga saya salut kepada para pemrakarsa berdirinya lembaga pendidikan ini. Upaya mereka untuk mencerdaskan warga negara yang terdampar jauh dari tanah airnya. Warga yang sangat ingin belajar tapi tak mendapatkan fasilitas dan kesempatan yang memadai. Dan kini harapan untuk menuntut pengetahuan dapat di wujudkan atas jasa para pemrakarsanya. Merekalah yang memberikan fasilitas, dan sarana atas berlangsungnya proses pendidikan ini. Mereka memberikan sarana bagi para BMI (Buruh Migran Indonesia) untuk mengeyam pendidikan, beribadah, karena bukankah menutut ilmu adalah ibadah, mereka membantu mencerdaskan bangsa, membantu menigkatkan martabat para TKW, memberikan begitu banyak manfaat bagi para mahasiswanya dan orang lain di sekitarnya mungkin secara tidak langsung.
Mereka adalah, Bapak T.S Reza, SE, MM selaku direktor, Ibu Anita Evriliana selaku manager, Ibu Fadillah, Ibu Andrianto, Mr. Erwin (warga Hong Kong), Mr. Mike (warga Amerika), dan mungkin masih banyak lagi yang tak saya ketahui nama-namanya yang membantu proses pendidikan ini.
Meski proses belajar masih berjalan dengan “mengenaskan”, tetapi semangat mahasiswanya untuk menutut ilmu tidak diragukan. Jurusan yang dipilih adalah Informatika Komputer, dan memang sementara baru ada satu jurusan itu saja. Semoga saja kedepanya bisa lebih. Mahasiswa LPPMI Hong Kong (Lembaga Pendidikan Profesional Mandala Indonesia) pergi ngampus hanya sekali dalam dua minggu, karena kondisi hanya memungkinkan untuk itu. Tetapi mereka masing-masing berfasilitaskan laptop dan jaringan internet agar proses belajar tetap berlangsung setiap ada waktu luang setelah bekerja.
Semula saya berpikir alangkah baiknya bila pemerintah ikut membantu proses pendidikan ini, tetapi mungkin pikiran itu harus dikubur dalam-dalam. Seingat saya ada salah satu mahasiswa yang pergi ke KJRI (Konsulat Jendral Republik Indonesia) untuk mengurus maslah paspor dan visa, karena dia terlambat datang lalu staf KJRI bertanya kepadanya kenapa, sang anakpun menjawab bahwa dia harus pergi kuliah sehingga berakibat dia terlambat datang ke KJRI. Lalu sang staf pun menanggapi demikian, ” wong babu saja kok kuliah mending cari pacar bule saja”! Menurut saya mungkin staf itu yang seharusnya kembali ke bangku sekolah. Meski demikian tidak dibenarkan bila saya beranggapan bahwa semua orang dari pemerintah Indonesai yang bertugas diwilayah Hong Kong tidak mendukung proses pendidikan bagi para BMI. Meski sekadarnya mereka juga ada buka kursus gratis, memasak, menjahit, bahasa inggris dan menari.
Tetapi bila ditelaah kembali memang kadang lucu juga, kenapa pemerintah kita tidak menyediakan perpustakaan untuk para BMI, justru organisasi-organisasi BMI sendiri yang menyediakannya, meski dengan koleksi buku-buku yang masih terbatas. Dan aneh rasanya bila pihak KJRI justru sering mengundang para artis datang ke Hong Kong, yang katanya ingin menghibur para BMI, apa mereka tidak berpikir untuk mendatangkanseorang artis ke Hong Kong mengeluarkan biaya berapa, yang toh uang tersebut juga dari BMI. Apakah tidak lebih baik bila dana itu digunakan untuk memperbaiki fasilitas bagi para warganya yang terpaksa mbabu di negara orang. Dan maksud mereka menghibur masih belum saya pahami, menghibur yang bagaimana? Hiburan yang bagaiman yang bisa diberikan para artis itu, menyanyi? bergoyang? berdandan? atau menghibur yang bagaimana? Apakah mereka tidak lebih mirip pelacur yang bisa nyanyi? Atau tidakkah mereka lebih bersifat mngajak kita mengumbar nafsu? mengajak kita untuk menjadi seorang yang suka bersenang-senang, menjadi pemalas yang tidak suka belajar, menjadi seorang yang suka bergoyang dan menyanyi? Benar-benar lucu! Hiburan yang bersifat sesaat disuguhkan meski dengan biaya yang tidak murah, sedang hiburan untuk masa yang lebih panjang tidak diperhatikan.
Lebih lucu lagi pihak Depnaker yang mendirikan Terminal Tiga di Bandara Soekarno-Hatta, yang kata mereka untuk membantu para TKI yang pulang ke Indonesia, untuk menlindungi mereka dari bahaya para permapok sedang mungkin mereka sendiri yang ingin jadi permapok, pebunuh, para TKI. Untuk lebih jelasnya tentang Terminal Tiga silahkan baca di sini Lalu pernahkah mereka menayakan apakah “bantuan” mereka itu menguntungkan para TKI, apakah “bantuan” memudahkan TKI?? Atau mungkin mereka adalah pelawak yang sedang manggung! Karena mereka benar-benar lucu!
Ahh..entahlah..!!
POLIGAMI
July 30, 2008 at 4:53 pm | In hidup, pendapatku, prasangka, protes, tanya | 11 CommentsHari ini saya dikejutkan oleh kedua teman saya, bagaimana tidak, karena mereka bilang mau berpoligami!!! Yang satu (Sasa) mau dijadikan isteri kedua, dan satunya
Hana) ingin suaminya kelak mau menikahi sahabatnya yang sangat dia sayangi (seandainya suaminya berkenan). Semula aku juga agak binggung mau kasih nasehat apa pada mereka saat minta pendapatku, karena aku sendiri sebetulnya kurang setuju poligami.
Kemudian aku mencoba memberikan masukan pada mereka, bahwa menikah bukanlah untuk coba-coba, menikah adalah untuk kebaikan selamanya, dunia sampai akherat. Apalagi poligami, tidak hanya menyangkut dua orang, poligami akan melibatkan lebih banyak orang, isteri pertama (sebelumnya), anak-anaknya, dan juga akan berpengaruh pada masyarakat luas bagaimana menilai poligami. Alangkah menyedihkan bila poligami dilakukan bukan dengan niat yang di anjurkan Tuhan, yang setahuku dalam Quran tidak ada anjuran berpoligami karena alasan syahwat.
Bila dilihat dari lingkungan sekitarku, poligami dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tidak memberitahukan isteri pertama (sebelumnya), bahkan keluarga. *Kadang aku sangat picik menilai hal itu sebagai sebuah PENGHIANATAN*. Tetapi bukankah itu di bolehkan, menikah lagi tak harus mendapatkan ijin dari isteri sebelumnya! Hal itu adalah halal. APAKAH BENAR BEGITU ISLAM MENGAJARKAN?
Hal-hal tentang poligami yang menurutku ganjil tetapi bila dikembalikan pada hukum islam adalah halal, diantaranya:
1. Tidak diharuskan mendapat ijin isteri sebelumnya untuk bisa menikah lagi, yang di sini menurut saya sebagai isteri HARUS MENERIMA. *Artinya isteri tak berhak bersuara!*
2. Masalah ADIL, hal ini sangat rumit karena tidak ada parameter penentunya.
3. Yang paling penting adalah tenang niat, niat untuk poligami terkesan bukan karena ibadah. Meski saya menyadari bahwa niat hanya hak Tuhan menilai, tetapi bukankah berpoligami di lakukan karena perintah agama, lalu apa artinya menjalankan perintah agama bila di niatkan hanya untuk bersenang-senang belaka.
4. Berplogami meski tidak memahami hukumnya, hahhaha..lucu sekali!!
5. dan lain-lain…
(Untuk yang lain-lainnya mohon tambahan *bila ada*, atau mungkin anda justru akan mengurangi, silahkan… “Hajar” saya orang yang bodoh in..!!)
*sebenarnya posting ini sudah lama saya tulis di sini *blog saya yang lain*, tapi karena kurang puas, jadi ya…*
Kegagal(h)an
July 27, 2008 at 7:50 pm | In hidup, pendapatku | 4 CommentsSiapa yang tak pernah menjumpainya? Saya percaya setiap manusia pernah disapanya. Peristiwa yang satu ini sebenarnya adalah bahasa kekuatan (kegagahan) *menurut saya*.
Akhir-akhir ini saya semakin akrab saja dengan yang namanya kegagalan. Rasanya seperti digilas kereta kuda, tersiksa namun gak mati. Kalau sudah begini, maka saya akan sedih, malu, lalu benci pada diri sendiri. Akhirnya akan putus asa dan berdiam diri.
Namun, tidak boleh demikian. Saya harus bisa memaapkan diri sendiri, memberikan kesempatan untuk berdiri lagi. Dan untuk bisa berdiri saya harus mengerahkan segenap kekuatan.
Akhirnya walau tidak selalu tegak, saya mampu bangkit lagi. Mengeja luka-luka, memahami bahasa kekuatan (kegagalan).
Kegagalan itu ternyata unik, bahkan lucu, dikemudian hari saya sering menertawainya karena gemas! Ternyata kegagalan memiliki dua muka, yang muncul duluan adalah mengerikan, hingga kadang membuat saya capek jadi manusia. Tapi yang muncul kemudian, hhmmm….membuat saya rindu, kapan ya saya “dihajar” lagi.. agar bertemu “WAJAH” itu lagi.
*Kadang jadi perempuan itu repot, karena terlalu peka dan emosional*.
*Apalagi saat haid, saya hampir tidak bisa memahami diri sendiri* halah boh…
Bodohkah Saya, Bila…
July 26, 2008 at 8:38 am | In tanya | 7 CommentsSaya sungguh ingin membantu untuk mendirikan perpustakaan di tempat kami belajar. Menyumbangkan buku-buku saya, membelikan rak buku untuk perpustakaan (seandainya memang terwujud). Tetapi apakah saya bodoh bila menyumbang untuk mereka, bukankah mereka juga mempunyai penghasilan yang sama dengan saya, yang kurang lebih … setiap bulannya.
Lalu harus bagiamana saya? saya mendambakan “kampus” kami memiliki perpustakaan, saya ingin teman-teman suka membaca, saya ingin mereka membuka mata untuk dunia. Sedang mereka tidak memiliki kesadaran untuk membeli buku sendiri.. Haruskah saya memberi untuk mereka..?????????
Apakah saya termasuk orang-orang yang tolol karena salah mengalokasikan sumbangan saya…??
Berikan saya pencerahan..!!!! Nasehat..!!!
Tentang Pilihan!
July 22, 2008 at 9:01 am | In pendapatku, prasangka | 3 CommentsPerempuan akan bersedia meninggalkan dunia (harta/kareir, dsb) demi laki-laki. Dan laki-laki tak keberatan meninggalkan perempuannya demi dunia (harta/karier, dan semacamnya)
Begitulah memang adanya, terlalu skeptiskah? Tidak!!
Hidup Untuk Apa
July 8, 2008 at 8:57 am | In hidup, pendapatku, tanya | 6 Comments“Hidup tak hanya menuggu mati”
Sebaris kalimat di atas cukup mengelitik saya untuk tidak berpangku tangan. Menganggur, adalah hal yang sangat saya takuti. Bagaimana seorang manusia mampu melalui hidupnya dengan tanpa melakukan sesauatu? Oh..tidak, hal itu sungguh mengerikan..!!!
Bukankah bila kita belum memiliki perkerjaan masih banyak hal yang dapat kita lakukan. Menurutku meski apa yang kita lakukan tidak menghasilkan uang, asal kita mau berbuat sesauatu yang bermanfaat itu bukanlah pengganguran. Manfaatkan kemampuan kita semaksimal mungkin.
Seseoarang yang normal harus mampu menghidupi dirinya sendiri, setidaknya seperti itu. HARUS!!
Ingat kembali ucapan Nabi Mohammad, “orang yang baik adalah orang yang berguna bagi orang lain.” Lalu bagiaman bisa berguna bila tak melakukan sesuatu?
Di waktu luang kita bisa manfaatkan untuk membaca, menambah ilmu. Bukankah ilmu bisa kita sumbangkan.
Atau terserah melakukan apa saja yang kita sukai, asal sesautu yang bermanfaat dan jangan berpangku tangan.
Entahlah kenapa, saya sangat takut menjumpai pengangguran. Bagi saya lebih baik menjumpai seorang pemulung yang mencari sesuatu di tong sampah, setidaknya mereka tidak mengantung pada orang lain, dan membantu program ramah lingkungan (recycle). Bukankah mereka mencari sesuatu (sampah) yang bisa dimanfaatkan kembali.
Menurut saya orang yang suka membaca (“membaca”) sangat menyenangkan. Biasanya orang yang suka membaca (“membaca”) tidak tidur (“tidur”) terlalu lama dalam hidupnya, dan biasanya bukan pemalas. Karena mereka mendapat ilmu dari sana, itu membuat mereka lebih banyak mengerti, bahwa hidup bukan hanya menunggu mati.
*Saya adalah orang yang suka membaca, tetapi tidak selalu saya lakukan. Alasannya? Yang pasti bukan karena malas.(membela diri)*
Antara Ilmu dan Harta
July 4, 2008 at 6:36 am | In hidup | Leave a CommentAbu Na’im meriwayatkan dalam kitab Al-Hulliya dari Kumail bin Ziyad dan berkata bahwa Ali bin Abu Thalib memegang tanganku, lalu mmebawaku ke padang pasir. Ketika sampai di sana kemudian dia duduk, lalu menarik nafasnya seraya berkata,
“Wahai Kumail hati ibarat bejana dan yang paling baik adalah yang berkesadaran. Maka peliharalah kata-kataku ini : manuasia ada tiga; orang yang ‘alim rabbani ; orang yang terus belajar untuk selamat; dan orang yang liar tanpa kendali, yang menuruti semua panggilan, yang condong kemana angin bertiup, yang tidak mengambil cahaya ilmu dan tidak pula bersandar pada tiang yang kokoh. Ilmu lebih baik dari pada harta. Ilmu bertambah karena amal sedangkan harta berkurang karena dibelanjakan. Cinta ilmu adlah piutang yang akan dibayar. Ilmu memberi memberi orang yang berilmu ketaatan dalam hidupnya dan menjadi pembicaraan baik setelah mati sedangkan manfaat harta habis dengan habisnya harta. Para penyimpan harta mati dalam hidup mereka, sendangkan orang-orang yang berilmu tetap hidup selama masa masih ada, mata mereka hilang sedangkan keteladanan mereaka ada dalam hati manusia.”
Tulisan di atas saya ambil dari karya Hani Al-Haj dalam bukunya 1001 Kisah Teladan. Buku setebal 760 halaman itu berisi tentang cerita teladan dari kisah-kisah dijaman Rassulullah masih hidup.
Beberapa baris kalimat diatas seperti menampar saya. Menyadarkan betapa saya sangat telambat menemukan harta yang sesungguhnya. Dan saya bersyukur masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bisa menjadi manusia yang lebih berguna. Saya ingat kembali cerita guru ngaji saya tentang sabda Nabi ketika ditanya seorang sahabatnya, “ya Rasullulloh, siapakah orang yang baik di dunia ini?”. Lalu Rasullulloah menjawab, “Orang yang baik adalah orang yang berguna bagi manusia lain”. Nah, orang yang tanpa ilmu mungkin sulit sekali untuk bisa membantu dan berguna bagi orang lain.
*Halah..pikiran macet..!!*
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.