Darah, Kutukan atau Kematian

August 25, 2008 at 8:08 pm | In islam, pendapatku, protes, tanya | 11 Comments

Ada bercak darah di sana, merah, dan segar! Saya curiga, jangan-jangan itu darah kutukan.. sampai saat ini saya masih curiga dan menduga-duga. Darah apakah? Padahal belum genap 3 minggu dia datang, hanya sebercak, dan tidak lagi..

Bagi laki-laki darah adalah hal asing [mungkin], tetapi perempuan, tidak.

Tetapi entah kenapa saya masih saja ngeri menyaksikan penyembelihan hewan, rasanya hati ini seperti diiris-iris meyaksikan ritual kematian itu. Ada nyawa melayang. Ayam, sapi, kambing, bebek, kerbau, gajah, kelinci, truwelu, dan sebagainya..
Tapi mereka, hewan-hewan itu dimuliakan oleh Tuhan, buktinya ada syariat yang memerintahkan penyembelihannya mengikuti apa yang telah ditentukan Tuhan. Diantaranya ada di posting saya beberapa waktu yang lalu. Klik saja. :-)

Dan yang menjadi pertanyaan saya di sini, kenapa hal itu tidak diberlakukan pada ikan? Baik ikan laut maupun ikan air tawar, udang, kepiting, kura-kura, dan semua yang dari laut??

Gusti ALLAH menyatakan dalam firmannya,
“Dialah Zat yang memudahkan laut supaya kamu makan daripadanya daging yang lembut.” (an-Nahl: 14)

“Dihalalkan buat kamu binatang buronan laut dan makanannya sebagai perbekalan buat kamu dan untuk orang-orang yang belayar.” (al-Maidah: 96)

Binatang laut dapat dikonsumsi dalam kondisi apapun, masih segar atau sudah bangkai, ditangkap oleh kafir ataupun muslim. Yah, tidak perlu ritual yang macam-macam seperti binatang di darat. Kenapa? Apakah Gusti ALLAH tidak memuliakan binatang laut itu, sehingga tidak perlu doa ketika mematikannya ? Pemikiran yang salah! Mungkin saja!
Ikan biasanya hanya dipukul kepalanya agar dia mati yang kemudian bisa di bersihkan.

Lobster juga demikian [kalau untuk lobster biasanya terlebih dahulu ditusuk pada bagian bawah hingga tembus kebagian lehernya agar air kencingnya keluar, karena kalau sudah mati air kencing akan sulit dihilangkan dan terkonsumsi], bahkan udang kecil-kecil itu hanya cukup dicuci dan di rebus hidup-hidup lalu dimakan.

Apa yang membedakan binatang air itu tidak perlu ritual untuk kematian mereka? Alasan yang jelas memang karena sudah dihalalkan oleh Sang Pencipta.

Tetapi saya ingin menanyakan dari sudut lain.
Mungkinkah karena jumlah mereka yang terlalu banyak, sehingga Tuhan tidak mau merepotan hamba-hambanya dengan berbagai macam ritual itu? Atau karena sulitnya menangkap mereka dalam kondisi yang masih hidup dari laut? Atau apa? Tolong, berikan masukkan..!!

Tetapi, saya memikirkah satu hal untuk jawaban dari hal itu. Kenapa hewan darat perlu ritual, dan hewan laut (air) tidak perlu, jawaban saya adalah DARAH.

Binatang darat adalah bintang yang berdarah, dan perlu proses yang benar untuk mengeluarkan darahnya. Sedang binatang laut, meski berdarah, adalah terlalu sedikit darahnya, sangat sedikit, kecuali belut. Sedang tentang dimuliakan atau tidaknya nyawa mereka, saya tidak tau alasannya, kenapa? Tuhan masih saja menyimpan rahasia. :-) Yah, bukan Tuhan kalau tidak Maha Merahasiakan. :-) *semoga saya diampuniNya*

Menurut Anda, kenapa?

Surat

August 23, 2008 at 6:20 pm | In asmara | 1 Comment

Untuk Miming,

“Kenapa kau tinggalkan aku?”, tanyaku.
“Karena aku tidak suka setelah melihatmu!”, jawabmu.

Penggalan kalimat itu, kau ingat kan?
Tak ada yang salah dari alasanmu. Benar. Siapapun berhak berubah, berhak memilih.

Sekedar kilas balik, Miming. Tentang masa lalu. Bagiku masa lalu tidak harus dilupakan, baik yang senag maupun yang menyedihkan. Masalalu adalah sejarah hidup, Miming. Aku tak kan melupakan masa lalu itu, tapi akan senantiasa belajar menempatkannya, pada sisi yang sebijak mungkin.

Kurang lebih dua tahun yang silam, kita bertengkar!! Saling mengutuki, saling mencela, saling menyalahkan! Hal itu merupakan proses yang berat bagiku, sekaligus sangat berharga.

Dan..
Devi! Aku terpikat pada gadis itu! Dia, gadismu yang sekarang! Selamat Miming! Aku ikut bahagia!

Yah, dua tahun aku menantikan. Kau minta maap padaku! Atas ingkar, atas penghianatan. Tapi sudahlah, bukankah semua tetap berjalan lancar-lancar saja. Tidak ada yang perlu dirisaukan!

Ternyata kau cukup tangguh, Miming. Mampu menghadapi nuranimu. Karena kau tau? musuh seorang penghianat adalah sebuah hati (nurani), bukan hati yang dihianati, tapi hatimu sendiri. Dan kau benar-benar tangguh!!

Kalau bicara soal salah, tentu aku tak luput dari salah. Tapi aku bukan penghianat! Aku bukan!!!
Aku telah mengakui kesalahanku, keburukkanku, dan aku mau minta maap padamu!!
Aku memohon maap atas segala salahku, Miming…!! Aku mohon ridhomu, kerelaanmu..!!

Dan aku menyadari, sesungguhnya persoalan telah selesai di sini!

Aku tidak memerlukan “kata maap” darimu, Miming, bila hanya agar aku lebih merasa s(t)enang.
Surat ini sekedar permohonan maap dan kilas balik, tentang sebuah sejarah, aku dan sebuah nurani yang telah mati!

Hong Kong, 24 Agustus
02.16 am

Gattyna

Hal-Hal Yang Tak Berguna dan Syair Gus Tf

August 22, 2008 at 9:02 am | In hidup, nglantur, syair Gus TF, tanya | 10 Comments

Apalah yang bisa ditulisakan oleh blogger resah seperti aku ini, selain nanah dan darah, selain bau amis kegelisahan dan kepedihan. Hal-hal yang tak berguna!! Tentu saja aku bukan satu-satunya orang yang menderita di dunia ini, bahkan ada yang lebih menderita dari aku. Namun, rasanya aku sudah tidak tau lagi bagaimana caranya berbahagia. Membeli baju barukah? Shopping? Membantu sesamakah? Atau menenggelamkan diri kepada buku-buku dengan tulisan International Bestseller di sampulnya? Atau bersyukur dan berdoa?

Bersyukur, hal itu membuatku merasa semakin tak berguna saja. Bagaimana tidak, aku dibuat berpikir bahwa mungkin dari beberapa sisi aku lebih baik dari beberapa orang di luar sana :mrgreen: , lalu mengapa tetap saja tidak mampu berbuat apa-apa? Betapa tak bergunanya aku ini..!! Lalu apa manfaat bersyukur kalau seperti ini? Menyenangkan Tuhankah, berterimakasih padaNya? Sesungguhnya Tuhan memerlukankah hal demikian itu? Dan kepura-puraan dari hambanya?
Meski memang, kepura-puraan tidak selalu jahat, mungkin itu bisa juga berarti sebuah perjuangan dari berbagai macam variasinya.

Berdoa, aku lupa sejak kapan aku tidak melakukannya. Tapi aku masih berdoa untuk kedua orang tua dan sodara, juga untuk orang-orang yang meminta dan ingin aku doakan. Dan untukku? Entahlah, aku merasa seperti penjilat saja dihadapan Tuhan, bila aku minta macam-macam atas apa yang aku jalankan. Aku hanya ingin selalu dekat denganNya. Tapi entahlah Dia di mana? Adakah Dia di dalam buku-buku yang aku baca itu, adakah Dia di layar laptop yang sering aku pelototi itu? Adakah Dia pada buah apel yang sering aku kunyah itu? Tetapi konon, kata orang-orang alim itu Gusti ALLAH berada lebih dekat dari urat leher kita! Mungkin!? Tapi menurutku Tuhan yang hanya satu itu tidak selalu bersama kita, kalau Dia sekarang sedang bersama saya, Dia pasti tidak sedang bersama Anda, Dia kan hanya Satu. Tetapi Dia selalu mengawasi dan mengetahui segala tentang kita, entah bagaimana caraNya..

Berdosalah aku atas apa yang aku pikirkan, rasakah!!

Tetapi mungkin tidak bila kategori dosa itu di ambil dari pernyataan Baba [dalam novel The Kite Runner karya Khaled Hossaeini]; Dosa hanya ada satu jenis saja, yaitu ‘mencuri’! Kalau kau membunuh seorang pria, kau mencuri kehidupannya. Kau mencuri seorang suami dari isterinya, merampok seorang ayah dari anak-anaknya. Kalau kau berbohong, kau mencuri hak seseorang untuk mendaptkan kebenaran. Kalau kau berbuat curang, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan keadilan. Tidak ada tindakan yang lebih hina daripada mencuri.

Itu merupakan gagasan gila, menurutku, tapi masuk akal juga. :mrgreen:

Tapi entah mengapa, aku yakin Tuhan akan mengampuni aku. Dia Maha Penyayang, Pemurah, Pengampun, Pengasih..
Dia bukan Maha Ngambek, bukan Maha Marah, bukan maha Kejam..
Aku yakin Dia senantiasa memaapkan aku, seperti seorang ayah yang menimang kembali anaknya yang kemaren mencakar wajahnya, seperti seorang ibu yang meciumi anaknya yang baru menumpahkan masakan yang akan dihidangkannnya, seperti seorang kekasih yang memanjakan pujaannya yang pernah menghianatinya..
Apalagi Gusti ALLAH, Dia Maha Pengampun, Penyayang, Pemurah..

Ahh..berpikir praktis seperti ini kadang lebih membuat nyaman.. :mrgreen:

Dan kini, yang ada dipikiranku hanyalah PULANG!! Aku membayangkan sebuah rumah untukku tinggal, mungkin rumah kontrakan atau sebuah kamar apartemen, atau apa sajalah, asal aku bisa pulang. Sebenarnya apakah yang ada di dalam pulang itu? Aku tidak tau! Apakah harus ada keluarga? Ada bapak, ibu, kakak, adek, dan semacanya itu?
Aku tak mau berharap banyak, karena harapan lebih sering menghianati aku.

Lalu untuk apa aku hidup? Mungkin untuk berjuang, berjuang yang tanpa harapan , berjuang untuk entah, bernjuang untuk kepatuhan mungkin, karena tidak ada yang bisa kulakukan selain itu.

Kadang aku ingin megurung diri saja, tidak bertemu siapapun, tidak menghadapi kenyataan apapun, sebuah pilihan menjadi seorang pengecut. Namun, aku ragu, mampukah aku menghadapi nuraniku sendiri, karena masalah seorang pengecut, penghianat adalah nuraninya sendiri..

Ah, rasanya penderitaan menghadapi kenyataan lebih baik, dari pada kenyamanan dalam kebohongan.. :-)

Tiba-tiba ingin sekali menikmati syair Gus TF, Jam nol-nol!

Jam nol-nol..
Ketika keranda kutarik bumi tak melirik
Sepi merapat memelukku erat
Dingin..
mendekatkan langkahku
yang bersiul menuju
kuburan zaman

Jam nol-nol
Ketika bulan dan matahari
Kutinggalkan
Dalam mabuk liar mengerikan
Sebentar lagi
Lewat jam nol-nol baku hamtammu kan terjadi
Pertumpahan darah itu pasti

Jam nol-nol..
Ketika pesta lewat puncak
Kubayangkan satu
Atau dua-duanya kan mati
Bulan dan matahri

Jam nol-nol..
Jam nol-nol..
Jam nol-nol..
Keranda kumasuki..

Pertanyaan Seorang Pendo(s)a

August 12, 2008 at 6:50 am | In hidup, islam, pendapatku, tanya | 9 Comments

Siapakah yang lebih hina, pelacur yang menjual tubuhnya atau pembeli tubuh yang dilacurkan.

Di sini saya tak percaya bila ada pelacur yang mengatakan bahwa dia terpaksa menjual tubuhnya demi mempertahankan hidup. Bukankah masih ada pilihan. Meski Firdaus dalam novel Perempuan di Titi NOL karya Nawal-el Saadawi berani membunuh mucikarinya, namun pilihannya menjadi seorang pelacur tidak juga saya pahami. Bukankah dia bisa mencari pekerjaan yang lebih terhormat.
Dan ironis, dia juga harus menuju tiang gantungan setelah membunuh germo itu, tetapi dia hadapi sang maut tanpa rasa takut, bahkan dia menyambutnya dengan gembira. Dia wanita perkasa, namun sayang dia tetap saja seorang pelacur… dia diperdaya oleh hidup.
*ahh..ngomong apa saya ini…??? *

Dan laki-laki, saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan.. kenapa mereka mau bercinta dengan yang bukan haknya?
Sebenarnya siapa yang menciptakan dunia pelacuran? Perempuankah? Lelakikah? Kehidupankah? Kebutuhankah? Kemauankah? Kebodohankah? Setankah? Siapa??

Anda, bagaimana memandang…?????

*Oya, novel itu diangkat dari kisah nyata*

[Teman saya mengatakan, bahwa tulisan saya terkesan menggurui, tetapi sungguh, tiada niat demikian, saya hanya melahirkan apa yang terkandung dalam jiwa saya, akal saya, dan belum bisa menrangkai kata-kata yang tetap untuk menyampaikan. Mungkin niat memang tak selalu sesuai dengan hasilnya. Mohon maklum ya..!! :-) ]

Monolog;Suara Kekalahan

August 12, 2008 at 5:53 am | In hidup, nglantur, pendapatku | 5 Comments

Aku sedih sekali, karena disriminasi masih berlaku..
Aku sedih sekali, saat aku ingin pulang, tetapi tak ada rumah untukku pulang..
Aku sedih karena yang buruk rupa masih dihina..
Aku sedih karena persahabatan ‘dimanfaatkan’..
Aku sedih karena yang kecil masih tak di dengar..
Aku sedih..

Tetapi aku tak boleh menangis..

Aku harus melawan..
Aku akan melawan dunia..
Meski hidup hanya menunda kekalahan..

Malam ini aku memutuskan (memaksakan) untuk tidak takut hidup sendiri..

*Semula aku memilih diam, tetapi entahlah..aku ingin juga menyuarakannya.. meski tak kan didengar, karena memang tidak enak didengar, kebanyakan orang lebih suka mendengar yang menyenangkan, menghibur, memintarkan, dan entah..

Rasanya aku telah dihianati, kecewa, tetapi inilah kenyataan. Kenyataan adalah ketidakbenaran yang harus diakui bahwa ini adalah normal.*

Aku iri pada kalian, yang setiap hari bisa pulang..

Fenomena Penyembelihan Hewan

August 6, 2008 at 2:35 pm | In islam, tanya | 8 Comments

Bagi saya melahirkan apa yang terkandung di dalam pikiran masih saja menjadi hal yang tidak gampang. Sesungguhnya keinginan untuk menuliskan tentang masalah ini sudah sejak beberapa bulan yang lalu. Tetapi karena belum cukup bahan, saya membiarkan untuk tetap mengendap di dalam pikiran.

Berawal dari perbincangan dengan seorang teman muallaf tentang penyembelihan hewan dengan aturan islam beberapa bulan lalu, saya mulai bertanya-tanya, mencari-cari, dan menduga-duga. Sebenarnya apa bedanya hewan yang disembelih dengan mengikuti syari’at islam dengan hewan yang dipotong begitu saja?? Kenapa ada daging yang hala dan haram?

Ahh..biarkan saja tulisan ini lahir, walau belum cukup data dan premature..agar tak menjadi kerak dalam ingatan saya yang akhirnya melumut dan jamuran, lalu membusuk dan tak berbekas..

Tata cara penyembelihan hewan (versi islam), diantarnya kurang lebih sebagai berikut:
a. Berniat atas nama ALLAH SWT, ternyata dengan berniat (menyebut nama Allah) saat menyembelih hewan akan membantu proses mengalirnya darah sembelihan dengan lebih lancar. Hal ini karena semua mahkluk berserah diri pada Allah (tentu saja termasuk hewan), jadi bila disembelih dengan menyebut nama Allah, hewan tadi akan lebih tenang sehingga detak jantungnya tetap normal yang akan berakibat darah terpompa keluar dengan maksimal.
b. Binatang harus disembelih menggunakan benda tajam (pisau) dan dalam waktu yang sesingkat mungkin agar binatang yang disembelih tidak terlalu merasa kesakitan.
c. Potonglah rongga pernapasan, tenggorokan dan pembuluh leher yang dapat membunuh binatang tanpa harus memotong urat syaraf tulang belakang.
d. Darah harus dialirkan, darah binatang yang disembelih harus benar-benar dialirkan sebelum kepalanya dipotong. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengeluarkan semua darah yang menjadi tempat berkembang biaknya mikro organisme. Urat syaraf tulang belakang tidak boleh dipotong terlebih dahulu, karena dapat merusak syaraf fiber yang berhubungan dengan jantung selama proses penyembelihan sehingga menyebabkan penghentian detak jantung, maka darah akan tetap menggenang dalam pembuluh darah, daging menjadi mudah busuk dan tidak sehat untuk dikonsumsi.

Darah menjadi tempat berkembangnya kuman, bakteri, racun dan unsur merugikan lainnya. Oleh karena itu penyembelihan binatang yang dilakukan oleh umat Islam lebih higienis dimana semua darah yang mengandung kuman, bakteri, racun dan unsur lain yang dapat mengakibatkan terjangkitnya berbagai penyakit harus dialirkan atau dibuang. Yang tujuannya agar kita tak mengkosumsi darah si hewan tadi, sehingga bila hewan tadi menderita penyakit tertentu kita tidak tertular.

Daging binatang yang disembelih dengan cara Islami akan tetap segar dalam waktu yang lama karena kurangnya darah dalam daging dibandingkan dengan daging binatang yang disembelih dengan cara lain.

Penyembelihan yang dilakukan dalam waktu singkat dengan memotong pembuluh leher yang tidak berhubungan dengan aliran darah menuju syaraf otak yang mampu merespon rasa sakit. Oleh karena itulah binatang yang disembelih secara Islami tidak merasakan sakit. Ketika sekarat binatang itu menjadi kejang, gemetar dan menendang-nendang tanpa merasa kesakitan, tapi disebabkan oleh kontraksi dan relaksasi otot-otot sehingga darah akan mengalir ke luar tubuh.

Hal di atas sudah cukup jelas untuk membedakan bahwa yang halal lebih baik dari yang haram, tetapi kenyataan tetap memaksa saya untuk bertanya. Kenapa dari sekian banyak manusia yang mengkonsumsi daging haram tetap sehat walafiat? Hal ini mungkin mirip dengan bila saya bertanya, kenapa orang yang korupsi tetap makmur dan semakin kaya saja?? Daging babi, yang nyata-nyata sudah dinashkan haram dan mengandung cacing pita yang tak kan mati meski telah dimasak semala berjam-jam, tetapi kenapa orang-orang yang mengkonsumsinya bahkan setiap hari pun tidak juga dibahayakan oleh kumannya??

Yah, di sini mungkin jawabanya adalah pilihan, keyakinan kita. Entahlah..

Kelemahan Harimau

August 6, 2008 at 11:42 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Anda takut harimau? Saya tidak. Maksud saya tidak berani :-) . Binatang ini saat kecil sangat lucu, meloncat-loncat saat bermain, berguling-guling, bentuknya yang mirip dengan kucing, menambah rasa gemas dan ingin bermain saja dengannya.

Namun bila umurnya telah menginjak 3 atau 4 bulan tentu bukan gemas lagi yang akan muncul. Meski begitu sebenarnya binatang ini bisa juga akrab dengan manusia, tentu saja bila manusia tidak menyakitinya. Yah, manusia pun juga bisa saja buas bak harimau bila disakiti sesamanya.

Bila anda kebetulan bertemu harimau, di hutan, di kebun binatang, atau entah di mana saja, dan tiba-tiba harimau itu ingin menyerang anda, maka jangan sekali-kali anda memanjat atau naik ke tempat yang lebih tinggi dari dia. Karena naluri keliarannya akan muncul bila ada mangsa yang berada di ketinggian. Tetapi kalau anda bisa memanjat sampai ketinggian sepuluh meter dan lebih, mungkin saja dia tidak sanggup mengejar *yang ini saya tidak menjamin :-) *. Tetapi jangan kawatir, bila benar-benar dia sudah berada di depan anda dan siap menerkam, masih ada ajian yang ampuh untuk megusirnya. Apa itu? Hehehehe..rahasia…!! :-) :-)

Anda tidak akan menyangka apa yang membuat harimau menjauhi anda bila dia ingin menyerang sekalipun. Ajian itu adalah PAYUNG! Iya, payung. Anehkan, harimau takut dengan payung. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, dia akan menjauhi tempat yang ada payung, tentu saja payung yang terbuka dan lebih baik lagi payung yang lebar (seperti yang di pantai itu misalnya).

Dan kalau harimau sudah benar-benar mengigit anda maka jangan coba-coba menariknya, karena semakin anda menarik dari gigitannya, dia akan semakin memperkuat gigitanya. Sebaiknya yang anda lakukan adalah mencarikan sesuatu untuk mengantikan bagian dari tubuh anda yang digigitnya. Caranya? Ya itu menguji kecerdikan anda!!

Oya, anda jangan perlihatkan bila anda takut pada dia, usahakan bersikap lebih rilex, dan seandainya anda tidak takut meyentuhnya, elus-elus dia seolah-olah anda adalah temannya. Karena ya, begitulah harimau yang ada sedikit miripnya dengan perempuan.

Bagaiman? Anda masih takut pada harimau?

*Posting ini adalah cacatan saya setelah datang kesarang harimau :-) *

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.