Minta Maap, Kewajiban atau Kebutuhan?
September 30, 2008 at 3:27 am | In Idul Fitri, pendapatku, tanya | 5 Comments“Memaapkan (mungkin) tidak bisa memperbaiki masa lalu, tapi pasti memperindah masa depan”. -Teguh Mario-
Maka bagi para pengujung mohon bermurah hati untuk memberikan maapnya atas segala kekeliruan dan kekhilapan saya.
Ya, hari raya Idul Fitri masih menjadi sarana yang saya manfaatkan untuk memulai hubungan yang lebih mesra dengan orang-orang yang pernah saya kenal. Saya memaapkan dan mereka juga demikian.
Saya ingat waktu di kampung dahulu, seolah hari raya Idul Fitri adalah puncak dari segala kebaikan. Segala sesuatu disiapkan untuk hari raya, rumah yang bersih, makanan yang lebih dari biasa, baju baru, bahkan minta maap dan memaapkan pun juga dipersiapkan untuk hari raya. Begitu istimewanya hari raya Idul Fitri.
Entahlah baik atau tidakkah terlalu mengistimewakan hari itu?
Dan ada pertanyaan di hati saya, apakah segala kesalahan pantas untuk dimaapkan? Memaapkan tanpa syarat?
Sedikit Tentang Pramoedya Ananta Toer
September 28, 2008 at 4:51 pm | In Indonesia, Pamoedya Ananta Toer, pendapatku | 8 Comments“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”
Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan dalam penjara – sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat: 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969), pulau Nusa-kambangan Juli 1969-16 Agustus 1969, pulau Buru Agustus 1969 – 12 November 1977, Magelang Banyu Manik November – Desember 1979 tanpa proses pengadilan. Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai tahun 1999 dan wajb lapor ke Kodium Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karayanya lahir di tempat purba ini, diantaranya Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca).
Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun menulis. Baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekuen teradap akibat yang akan ia peroleh. Barangkali karyanya dilarang dan dibakar.
Dari tangannya yang dingin telah lahi lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan interasional, diantaranya: The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsaysay Award pada 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, tahun 2003 mendapatkan penghargaan The NorwegianAuthours Union dan tahun 2004 Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagos Escobar. Sampai akhir hidupnya, ia adalah wakil Idonesia yang berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.
(Lentera Dipantara, Bumi Manusia)
Entahlah, mungkin tak pantas aku berbagi sesuatu yang orang lain telah mencicipi, Bumi Manusia. Novel ini telah lama diterbitkan, tetapi baru sekarang aku membacanya. Biarlah, memang agak ketinggalan, tak apa, bagiku.
Tulisanku ini (dan semua postinganku) tak pantas disebut berbagi ilmu, tapi lebih cocok bila aku mengistilahkannya belajar, yaitu belajar bercerita, mengeluarkan pendapat(gagasan), meski itu belum tentu benar, seperti salah satu sifat Nyai Ontosoroh yang ditampilkan dalam novel ini, tak takut mengeluarkan pendapatnya, walau dengan berbagai resiko
Tetralogi Buru (ada empat buku), sekarang ada di genggamanku, belum terbaca semua. Baru Episode pertama yang telah aku ‘lumat’, Bumi Manusia. Pada halaman awal (hal 100 an) aku merasa novel ini biasa, seperti tiada yang istimewa. Tetapi tidak setelah membaca halaman selanjutnya, dan selanjutnya. Sama hal seperti saat aku membaca tulisan Pram yang berjudul “Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer”. Tak berlebihan kiranya bila saya menyatakan bahwa tulisan (gagasan) Pram membuat pembacanya kecanduan.
Salah satu tokoh dalan novel ini adalah Minke, seorang terpelajar, berdarah raja-raja Jawa (bangsawan), baik dan tampan, dia pemuda yang belum cukup matang namun berani menawarkan kebebasan. Seorang anak Jawa yang sering mengutuk tradisi yang ditinggalan nenek moyangnya. Misalnya dalam ‘raungannya’ saat menghadap bupati B. (yang tenyata tak lain adalah ayahahandanya sendiri), “Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang eropa, kalau toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barangkali buta huruf pula. Menghadap seorang bupati sama dengan bersiap menampung penghinaan tanpa boleh membela diri. ..bagaimana manusia, biasa berjalan sepenuh kaki, di atas telapak kaki sendiri, sekarang harus berjalan setengah kaki, dengan bantuan dua belah tangan. Ya Allah, kau nenek moyang, kau, apa sebab kau ciptakan adat yang menghina martabat turunanmu sendiri sebegini macam? Tak pernah terpikir olehmu, nenel moyang yang keterlaluan! Keturunanmu bisa lebih mulia tanpa menghinakan kau! Sial dangkal! Mengapa kau sampaihati mewariskan adat semacam ini?”.
Yah, itu tak lain adalah gagasan seorang Pramoedya. Dan saya sependapat. Bagi saya sulit untuk ‘menjadi’ Jawa, berat agar saya bisa betah tinggal di sana, tetapi itulah tanah airku, yang harus dipelihara, dimakmurkan dan mungkin harus dicintai. Samapi sejauh ini aku hanya mengerti satu saja cara mecintainya, yaitu dengan memperbaiki diri, jiwa raga, lalu kemudian mengatakan pada semua bangsa, “bahwa aku adalah orang Jawa, orang Indonesia. Orang Indonesia tidaklah pemalas, tidaklah kotor, tidaklah bodoh, tidak urakan, orang Indonesia punya wibawa”.
Dn ternyata aku hanya berkhayal. Indonesia terlalu berat untuk dijunjung, menjunjung wibawa Indonesia berarti menjunjung dosa para koruptor. Koruptor adalah penjajah bagi negerinya sendiri, mereka tidak punya malu, karena malu tidak ada harganya di dalam ilmu pengetahuan dan pemerintahan. Maka bila ada kesempatan alangkah baiknya bila kemaluan mereka dipotong saja, sampai kepangkalnya.
Pram mengambarkan bahwa kehilangan adalah salah satu tahap menuju kematangan, seperti yang terjadi pada Minke, setelah dia kehilangan Annelies, bonekanya yang cantik nan rapuh. Kematian Annelies adalah batas yang menunjukkan bahwa masa mudanya telah berlalu. Hal ini saya juga menyetujuinya, seperti pengalaman pribadi.
Namun saya agak heran dengan irama yang dimainkan Pram, yaitu tentang persetubuhan Minke dengan Annelies. Saya tak menyangka Pram mampu menulis hal sedemikian panas (menurut parameter saya). Pram mengungkapkan bahwa persetubuhan atas dasar saling mencintai adalah lebih mulia dibanding persetubuhan antara seorang Nyai dan Tuannya. Hal ini dia paparkan melalui mulut Nyai Ontosoroh saat meronta karena dikeluarkan dari ruang sidang.
Ya, pada masa itu mungkin memang demikian. Persetubuhan antara dua orang yang saling mencintai lebih mulia dari pada persetubuhan didalam perbudakan. Walau saya kurang sreg, tetapi saya berusaha memahami, nilai benar dan salah tidak kaku, karena masa yang menentukannya.
*Sementara itulah catatan tentang Tetralogi Buru, mungkin akan berlanjut dengan catatan berikutnya, bisa saja tidak seirama dengan catatan ini atau justru menguatkan, lain kali saya ingin bercerita lagi, melanjutkan kebagian kedua*
Hampa; Bercinta Yang Tak Terlalu Mesra
September 17, 2008 at 5:15 pm | In Tuhan, islam, protes, tanya | 11 CommentsAku heran, iri, melihat orang-orang yang begitu mesra dan intim dalam bercinta. Kenapa hal itu sulit bagiku. Yang ada kadang cuma kewajiban semata. Tidak mesra! Huh! Entahlah, siapa yang menjadi pemicu keadaan ini? Perasaankah, tempatkah, waktukah, konsentrasikah, gaunkah atau kah-kah lainnya..
Bahkan kadang aku menjadi agak malas, aku tau sudah lama ditunggu, tapi laptop sialan ini masih saja menawanku, kandang buku atau novel yang melarangku pergi… Meski pada akhinya aku datang juga, di akhir penantian, ya, untuk bercinta, bercinta yang tak terlalu mesra… Ala kadarnya, hanya untuk sebuah kewajiban, belum menjadi kebutuhan, sungguh merana orang semacam aku ini..
Hampa. Bagaimanakah bercinta yang lebih mesra? Mungkinkah karena kurang rangsangan? Atau sebenarnya hanya aku saja yang kurang peka.. Ahh..!!
Aku ingin bercinta, ingin mesra, tak ingin lepas, ingin selalu menginginkan, merinduiNya. Kenapa harus dengan solat bila ingin bercinta denganNya? Tidak bisakah sambil tiduran saja? Padahal aku kadang merasa lebih dekat denganNya saat memikirkanNya, sambil ngelamun, saat menelusuri berbagai peristiwa.
Kapan aku bisa merasakah puas, Dia juga puas, dalam hubungan intim, dalam setiap sujud, dalam setiap doaku padaMu ya ALLAH, dalam setiap syukurku padaMu ya ALLAH…
Bila aku masih saja kurang peka terhadap rangsangaMu, penantianMu,..?
Semoga saja Engkau tidak kecewa, tidak marah padaku ya ALLAH, dalam hubungan yang tak terlalu mesra ini..
Rengkuhlah aku lebih erat ya ALLAH, aku tak ingin lepas…
Aku ingin selalu mencintai MU..
Aku ingin selalu dekat dengan MU..
Iya, aku akan datang, memenuhi penantianMU, bercinta yang lebih mesra…
Semoga Kau tak marah padaku..
Surat (II)
September 12, 2008 at 2:05 am | In asmara, nglantur | 2 CommentsUntuk Miming, kawanku
Tahun ini, ramadhan ini, lebaran ini…
Aku tak ingin menelpon km
Karena aku tak bisa membedakan suaramu yang sepertinya sedang menyesal atau,
suaramu sedang merasa enggan…
Aku tak ingin membuatmu merasa tak nyaman
Miming, sepertinya tulisan juga mampu menggemakan bunyinnya sendiri…
Bahkan mungkin akan lebih kau dengar dibangding suaraku sendiri…
Maka, bacalah dan maapkanlah aku…
Aku pernah berdosa padamu…
Aku pernah mencintaimu…
Aku mohon maapkanlah aku…
Miming,
Setiap dosa harus selalu ditebus…
Sedang perbuatan baik dan cinta akan selalu mendapatkan hukuman..
Selamat Lebaran, Miming, kawanku…
Mencari Lingkaran dan Pasangan; Tuhan Bukan Satu-satunya Yang Abadi
September 10, 2008 at 3:24 am | In Tuhan, islam, pendapatku, tanya | 11 CommentsPostingan yang sering muat dan laris saat ini adalah tentang Tuhan dan seperangkatnya. Tetapi memang, semua yang ada di semesta ini tak mungkin lepas dari Nya, hal itu menjadi niscaya bagi yang percaya bahwa Dia ada.
Sepertinya Tuhan menciptakan segala di semesta ini berupa lingkaran, dan berpasang-pasangan. Setiap siklus selalu membentuk lingkaran, dan setiap sesuatu selalu berpasangan. Tuhan berpasangan dengan hamba (benarkah demikian?), pasang dan surut, gelap dan terang, laki-laki dan perempuan, laut dan darat, air dan api dan tentu saja semua hal (sesuatu). Ya!
Dan siklus, sepertinya setiap siklus akan selalu berupa sebuah lingkaran, di mana titik awal itu dimulai, maka titik akhirpun juga akan di sana. Manusia berasal dari tanah dan kembali ke tanah, peredaran planet-planet selalu membentuk lingkaran (berputar dari titik awal dan kembali ke titik awal, tapi entah dalam sebuah lingkaran di manakah titik awal itu), matahari selalu kembali kepada pagi. Ya, ada yang mengatakan sebagai perulangan abadi. Konsep penciptaan alam ini sepertinya selalu menggunakan dua hal tersebut, lingkaran dan berpasangan.
Dari tiada, ada dan kembali tiada. Tetapi benarkah akan kemabali pada tiada?. Bila sesuatu pernah ada maka tidak mungkin akan benar-benar musnah, meski tidak ada lagi masa yang membungkusnya, meski ditiadakan oleh Tuhan sekalipun. Karena segala sesautu akan meninggalkan sejarah, dan satu-satunya sesuatu yang tak kan pernah musnah selain Tuhan adalah sejarah. Meski semesta ini telah lenyap, sejarah tidak akan dapat diingkari, oleh siapapun, bahkan Tuhan.
Dia tak kan mungkin mengingkari bahwa Dia pernah menciptakan manusia, meski manusia itu telah ditiadakanNya. Manusia, iblis, malaikat, alam semesta ini bisa saja lenyap hanya dalam satu kalimatNya, “Kun fayakun!”, musnahlah, maka musnahlah!. Tapi sejarah tidak akan pernah lenyap, tidak akan pernah lenyap.
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.