Hampa; Bercinta Yang Tak Terlalu Mesra

September 17, 2008 at 5:15 pm | In Tuhan, islam, protes, tanya | 11 Comments

Aku heran, iri, melihat orang-orang yang begitu mesra dan intim dalam bercinta. Kenapa hal itu sulit bagiku. Yang ada kadang cuma kewajiban semata. Tidak mesra! Huh! Entahlah, siapa yang menjadi pemicu keadaan ini? Perasaankah, tempatkah, waktukah, konsentrasikah, gaunkah atau kah-kah lainnya..

Bahkan kadang aku menjadi agak malas, aku tau sudah lama ditunggu, tapi laptop sialan ini masih saja menawanku, kandang buku atau novel yang melarangku pergi… Meski pada akhinya aku datang juga, di akhir penantian, ya, untuk bercinta, bercinta yang tak terlalu mesra… Ala kadarnya, hanya untuk sebuah kewajiban, belum menjadi kebutuhan, sungguh merana orang semacam aku ini..

Hampa. Bagaimanakah bercinta yang lebih mesra? Mungkinkah karena kurang rangsangan? Atau sebenarnya hanya aku saja yang kurang peka.. Ahh..!!

Aku ingin bercinta, ingin mesra, tak ingin lepas, ingin selalu menginginkan, merinduiNya. Kenapa harus dengan solat bila ingin bercinta denganNya? Tidak bisakah sambil tiduran saja? Padahal aku kadang merasa lebih dekat denganNya saat memikirkanNya, sambil ngelamun, saat menelusuri berbagai peristiwa.

Kapan aku bisa merasakah puas, Dia juga puas, dalam hubungan intim, dalam setiap sujud, dalam setiap doaku padaMu ya ALLAH, dalam setiap syukurku padaMu ya ALLAH…
Bila aku masih saja kurang peka terhadap rangsangaMu, penantianMu,..?

Semoga saja Engkau tidak kecewa, tidak marah padaku ya ALLAH, dalam hubungan yang tak terlalu mesra ini..
Rengkuhlah aku lebih erat ya ALLAH, aku tak ingin lepas…
Aku ingin selalu mencintai MU..
Aku ingin selalu dekat dengan MU..

Iya, aku akan datang, memenuhi penantianMU, bercinta yang lebih mesra…
Semoga Kau tak marah padaku..

11 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Walah, alakadarnya juga nih?

  2. iya, bang dana, saya gak punya sesuatu yang istimewa..

  3. Sayapun sudah tidak lagi mencintaiNya secara menggebu-gebu. Entah kenapa. Sudah lama saya tidak merasakan apa yang Peristiwa rasakan.

  4. @ peristiwa
    nampaknya Tuhan itu memang serasa lebih sreg kalau dipersonifikasikan ya… ;)

    @ danalingga
    *serasa tendendius*

    @ gentole
    sejak kapan manusia modern bisa benar2 “mencintai”-Nya. paling banter kita semua cuma sampai pada taraf “penasaran” saja, lalu membuat imaji2 sendiri, dan… yah, jadi miris juga, berasa ngomongin diri sendiri.
    *duh…*
    *menyeret langkah dengan gontai*

  5. @gentole
    ya begitulah laki-laki.. :mrgreen:
    .
    bukan hanya membuatnya kecewa, bahkan setiap saat Dia selalu cemburu, karena saya tak mampu selalu mengingatNya.. mungkin juga cemburu pada sampeyan, karena saya pernah memikirkan postingan anda saat sedang bercinta dengan Nya..

    @esensi yang males loogin
    ya, begitulah kira-kira..

  6. @ isnese

    gimane mo cinta kalo kenal aja belom?

    *kabuuuuuur*

  7. *melirik koment di atas*
    saya turut prihatin pada isnese.. :mrgreen:

    *tersenyum melecehkan*

  8. Coba cintai diri sendiri dulu…heuheu.. :mrgreen:
    salam kenal,

  9. saya justeru terlalu mencintai diri sendiri, baik kah yang demikian itu?

    salam kenal juga, bung Diedien :-)

  10. lho … bercinta sambil nenteng laptop, atau ngintip novel kan ndak masalah toh ?? bahkan mungkin malah bisa lebih hot. :mrgreen:

  11. @pak Watonist
    hohoho..
    iya, mungkin hot nya karena kebakaran… :mrgreen:


Leave a comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.