Sedikit Tentang Pramoedya Ananta Toer

September 28, 2008 at 4:51 pm | In Indonesia, Pamoedya Ananta Toer, pendapatku | 8 Comments

“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”

Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan dalam penjara – sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat: 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969), pulau Nusa-kambangan Juli 1969-16 Agustus 1969, pulau Buru Agustus 1969 – 12 November 1977, Magelang Banyu Manik November – Desember 1979 tanpa proses pengadilan. Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai tahun 1999 dan wajb lapor ke Kodium Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karayanya lahir di tempat purba ini, diantaranya Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca).

Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun menulis. Baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekuen teradap akibat yang akan ia peroleh. Barangkali karyanya dilarang dan dibakar.

Dari tangannya yang dingin telah lahi lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan interasional, diantaranya: The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsaysay Award pada 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, tahun 2003 mendapatkan penghargaan The NorwegianAuthours Union dan tahun 2004 Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagos Escobar. Sampai akhir hidupnya, ia adalah wakil Idonesia yang berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.

(Lentera Dipantara, Bumi Manusia)

Entahlah, mungkin tak pantas aku berbagi sesuatu yang orang lain telah mencicipi, Bumi Manusia. Novel ini telah lama diterbitkan, tetapi baru sekarang aku membacanya. Biarlah, memang agak ketinggalan, tak apa, bagiku.

Tulisanku ini (dan semua postinganku) tak pantas disebut berbagi ilmu, tapi lebih cocok bila aku mengistilahkannya belajar, yaitu belajar bercerita, mengeluarkan pendapat(gagasan), meski itu belum tentu benar, seperti salah satu sifat Nyai Ontosoroh yang ditampilkan dalam novel ini, tak takut mengeluarkan pendapatnya, walau dengan berbagai resiko :-)

Tetralogi Buru (ada empat buku), sekarang ada di genggamanku, belum terbaca semua. Baru Episode pertama yang telah aku ‘lumat’, Bumi Manusia. Pada halaman awal (hal 100 an) aku merasa novel ini biasa, seperti tiada yang istimewa. Tetapi tidak setelah membaca halaman selanjutnya, dan selanjutnya. Sama hal seperti saat aku membaca tulisan Pram yang berjudul “Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer”. Tak berlebihan kiranya bila saya menyatakan bahwa tulisan (gagasan) Pram membuat pembacanya kecanduan.

Salah satu tokoh dalan novel ini adalah Minke, seorang terpelajar, berdarah raja-raja Jawa (bangsawan), baik dan tampan, dia pemuda yang belum cukup matang namun berani menawarkan kebebasan. Seorang anak Jawa yang sering mengutuk tradisi yang ditinggalan nenek moyangnya. Misalnya dalam ‘raungannya’ saat menghadap bupati B. (yang tenyata tak lain adalah ayahahandanya sendiri), “Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang eropa, kalau toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barangkali buta huruf pula. Menghadap seorang bupati sama dengan bersiap menampung penghinaan tanpa boleh membela diri. ..bagaimana manusia, biasa berjalan sepenuh kaki, di atas telapak kaki sendiri, sekarang harus berjalan setengah kaki, dengan bantuan dua belah tangan. Ya Allah, kau nenek moyang, kau, apa sebab kau ciptakan adat yang menghina martabat turunanmu sendiri sebegini macam? Tak pernah terpikir olehmu, nenel moyang yang keterlaluan! Keturunanmu bisa lebih mulia tanpa menghinakan kau! Sial dangkal! Mengapa kau sampaihati mewariskan adat semacam ini?”.

Yah, itu tak lain adalah gagasan seorang Pramoedya. Dan saya sependapat. Bagi saya sulit untuk ‘menjadi’ Jawa, berat agar saya bisa betah tinggal di sana, tetapi itulah tanah airku, yang harus dipelihara, dimakmurkan dan mungkin harus dicintai. Samapi sejauh ini aku hanya mengerti satu saja cara mecintainya, yaitu dengan memperbaiki diri, jiwa raga, lalu kemudian mengatakan pada semua bangsa, “bahwa aku adalah orang Jawa, orang Indonesia. Orang Indonesia tidaklah pemalas, tidaklah kotor, tidaklah bodoh, tidak urakan, orang Indonesia punya wibawa”.

Dn ternyata aku hanya berkhayal. Indonesia terlalu berat untuk dijunjung, menjunjung wibawa Indonesia berarti menjunjung dosa para koruptor. Koruptor adalah penjajah bagi negerinya sendiri, mereka tidak punya malu, karena malu tidak ada harganya di dalam ilmu pengetahuan dan pemerintahan. Maka bila ada kesempatan alangkah baiknya bila kemaluan mereka dipotong saja, sampai kepangkalnya.

Pram mengambarkan bahwa kehilangan adalah salah satu tahap menuju kematangan, seperti yang terjadi pada Minke, setelah dia kehilangan Annelies, bonekanya yang cantik nan rapuh. Kematian Annelies adalah batas yang menunjukkan bahwa masa mudanya telah berlalu. Hal ini saya juga menyetujuinya, seperti pengalaman pribadi.

Namun saya agak heran dengan irama yang dimainkan Pram, yaitu tentang persetubuhan Minke dengan Annelies. Saya tak menyangka Pram mampu menulis hal sedemikian panas (menurut parameter saya). Pram mengungkapkan bahwa persetubuhan atas dasar saling mencintai adalah lebih mulia dibanding persetubuhan antara seorang Nyai dan Tuannya. Hal ini dia paparkan melalui mulut Nyai Ontosoroh saat meronta karena dikeluarkan dari ruang sidang.
Ya, pada masa itu mungkin memang demikian. Persetubuhan antara dua orang yang saling mencintai lebih mulia dari pada persetubuhan didalam perbudakan. Walau saya kurang sreg, tetapi saya berusaha memahami, nilai benar dan salah tidak kaku, karena masa yang menentukannya.

*Sementara itulah catatan tentang Tetralogi Buru, mungkin akan berlanjut dengan catatan berikutnya, bisa saja tidak seirama dengan catatan ini atau justru menguatkan, lain kali saya ingin bercerita lagi, melanjutkan kebagian kedua*

8 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Annelies adalah perempuan paling cantik dalam tulisan yang pernah saya bayangkan. Itu semua karena Pram. Btw, kematian Annelies bukannya ada di bagian “Anak Semua Bangsa”? kalo suka Pram, kamu mungkin suka Yb mangunwijaya juga dong? Saya rekomendasikan Burung-Burung Manyar. Bagus! Eh gak tau juga sih. Soal selera soalnya.

  2. @ gentole
    Saya justru gak bisa membayangkan kecantikan sempurna seorang Annelies hasil kreasi Pram, kecantikan soal yang sangat relatif.. (tapi sepertinya laki-laki memiliki daya imajinasi yang kuat soal yang ini :mrgreen: ), justru karakter Nyai Ontosorohlah yang memikat saya.. :-)
    Eh..tapi kecantikan Annelies lah yang membuat Minke terjebak ke dalam berbagai masalah, menjelma binatang purba.. yah begitulah!

    Oya, Annelies mati pada bagian Bumi Manusia..

    Burung-Burung Manyar, Yb Mangunwijaya?
    boleh juga :-) , ntar saya cicipi deh..

  3. Pertama kali baca (Anak Semua Bangsa), tidak ada daya tarik, setelah ditelusuri, ternyata saya salah, lalu saya beli sisanya, tanpa sadar saya menyesali ketiadatarikan saya sebelumnya akan karya tetralogi ini, lalu saya baca buku I sampai buku IV. Mulailah saya tergila-gila akan tetralogi ini, saya terlarut akan novel sejarah ini, kalo boleh dibilang sangat-sangat terlarut, ingin rasanya berada pada masa itu dan menjadi teman karib seorang Minke. BRAVO.

  4. @ Kurniawan
    yaya.. :-)
    Sepertinya tidak berlebihan bila mengagumi gagasan dan tokoh-tokoh cinptaan Pram tersebut.

    Bravo..

  5. :shock:
    *gigit jari*

  6. * ID baru terdeteksi, soalnya hampir terkecoh * :-)

  7. Ngomong2, buku2 karangan sastrawan Indonesia kamu boyong ke Hong Kong? Duh, dah lama juga gak baca sastra perang model Bumi Manusia.

  8. ya ya.. itu bukti cinta saya pada Indonesia, tapi kayaknya gak terbalas.. :mrgreen:


Leave a comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.