Surat Untuk Sang Penguasa
November 2, 2008 at 8:09 am | In Uncategorized | 16 CommentsBismillah…
Tuhan yang baik, lagi ngapain?
Kau tahu kan aku ingin sekali bertanya tentang banyak hal kepadaMU. Dunia ini seolah sudah tak nyaman lagi untuk dihuni. Apakah Kau nyaman di tempatMU?
Kau di mana?
Tuhan, Kau tau juga kan bahwa akhir-akhir ini aku kurang begitu mesra padaMu, karena sesungguhnya aku… ah entahlah.. ampuni aku Tuhan..
Ya Allah, Ya Tuhanku, orang yang telah memecundangi aku, ingkar janji, berkhianat. Kulihat mereka tetap baik-baik saja.
Maka dari itu ya Tuhanku, aku juga ingin mencoba mengingkari ucapanku. Tetapi Kau tau, aku sulit sekali melakukannya..
Ya Tuhan, ternyata memutuskan sesuatu itu tidak mudah, berbuat baik itu tidak mudah.
Belakangan ini ya Tuhan, aku muak dengan banyak hal, segala sesuatu terasa hambar.. Entahlah..
Tuhan Yang Baik..
Aku Engkau ciptakan, Engkau hidupkan, Engkau matikan, dan akhirnya apalagi..?? NERAKA atau SURGA?? Permainan apa pula ini..
*lagi menyelesaikan membaca Tetralogi Buru bagian ketiga “Jejak Langkah”, salah satu cara mensiasati kengerian hidup ini.. *
16 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Walah! Keduluan nih!
Padahal mau nge-post soal letter to God juga! Ckk… ck… ck…
.
…
T_T
*sebel kuadrat*
Comment by esensi — November 2, 2008 #
Seingat saya belum pernah ada yang berhasil menerima surat balasan dari Sang Penguasa. Tapi, tidak apalah, selama kita masih bisa mengeluh dan mengutuk, semua akan berjalan seperti apa adanya.
Suatu saat kita akan berhenti mengutuk, dan juga mengeluh — entah karena sudah mati atau karena sudah mengerti. Saat itu mungkin segalanya akan terasa lain. Tapi, yah, enggak tau juga sih. Maap.
Cheers.
Comment by gentole — November 2, 2008 #
hihihi kirim kelamat mana?kode pos?
Ya…apapun..anggap sebagai suatu untuk dipelajari…
Knapa Tuhan beri malam dan siang ,kebahagian dan kesedihan,panas dan dingin,orang kaya dan miskin,orang jahat dan orang baik…bukan Tuhan pilih kasih…bukan Tuhan membedakan satu sama lain…dimataNya..semua inzan sama…semua inzan disayangi…tapi Tuhan membuat itu semua, supaya dan ingin “kita mempelajari,dapat mengerti dan dapat membedakannya”.
Tuhan lagi lelah..lagi capek..lagi banyak tamu…lagi dihujat..lagi dimarah…biarkanlah dia beristirahat sebentar…apapun yang dijanjikannya untuk kita pasti ditepatiNya…
Biarkalah…Tuhan menagani dulu ,orang yang lebih butuh ,lebih memerlukan,lebih menderita…
Salam…
Comment by kweklina — November 2, 2008 #
ah, satu lagi, kalaupun Tuhan punya alamat e-mail, apa yang kek gini bakal masuk kategori spam ya?
Comment by esensi — November 3, 2008 #
@esensi
*
, semoga saya berhenti mengeluh sebelum mati ya!?
ya gak papa..Tuhan belom mau pensiun kok, post saja *pengen tau juga nih surat mesramu pada Sang Penguasa
.
kemarilah.. didekatku, kau tidak akan sebel..aku kasih pinjam deh..
.
@ gentole
yaya..bila mencintai Tuhan memang harus bersiap bertepuk sebelah tangan
apa sampeyan sedang berada pada posisi ’saat itu’..???
.
Cheerss.. *sayang gak ada anggur..*
.
@ kweklina
setahu saya Tuhan gak punya rumah yang kayak manusia, mbak.. jadi gak perlu alamat deh..
.
yaya..saya memang bukan orang yang layak disebut menderita kok, cuma pengen ngobrol saja ma Dia.. kangen..
.
@esensi lagi
weleh..memang Tuhan bisa main komputer apa??
Comment by peristiwa — November 4, 2008 #
kurangi makan dan tidur. *halah*
Comment by sitijenang — November 4, 2008 #
hmmm..
*
kira-kira memang sebaiknya demikian..
.
*Btw semudah itukah jawabannya.. ?? *
.
*tirakat, pak jenang..???? * *halah..juga lah..
Comment by peristiwa — November 5, 2008 #
ya coba aja baca tulisan saya “Paradoks Berkaki Dua”. kalo mau jawaban susah ya silakan aja. kalo Jawa kan memang mudah asal tahu tujuannya.
Comment by sitijenang — November 5, 2008 #
@ atas
`
asal tahu tujuan juga belum tentu mudah lho mas jenang,
apa ini bisa dianalogikan dengan, “saya tahu tujuan pulang saya ke kota X, tapi mobil mogok, bis penuh sesak, kereta apalagi, pesawat ngeri, nah?”, ngerti tujuane nanging …
.
rrr…
.
.
.
yo wis lah,
sing penting dilakoni sik ya
Comment by isnese — November 5, 2008 #
@ isnese
lha itu… kalo berhenti di seputar diskusi biasanya kan malah ragu lagi. kalo kendaraan gak ada ya jalan kaki…
Comment by sitijenang — November 5, 2008 #
suara hati itu…hwuwhwuw
Comment by feriadiisander — November 6, 2008 #
@sitijenang}isnese
.
Kan selalu ada Blue Bird. Gak apa mahal dikit, yang penting aman dan sampai tujuan.
Comment by gentole — November 6, 2008 #
Anda terlalu lembut dan berbudi bahasa orang yang akan mempunyai masalah ini.
Saya dapat berbicara dengan Anda dan meminta mengapa?
Comment by Vincent — November 6, 2008 #
@ pak SitiJenang
.


lha “Paradoks Berkaki Empat” sampeyan dah saya baca sejak hari pertama di posting
hanya saja saya gak niggalin jejak, lha wong jlimet tenan..
selama ini yang saya coba lakukan hanyalah memperbaiki diri saja, dengan cara menambah ilmu *halah*, bekerja keras *hayah*, dan ya mengeja setiap peristiwa dan belajar menjadi manusia.. *emboh lah.. *
karena berbagai macam ritual keagamaan belom mempan.
kalau porsi makan dan tidur tetap gak berubah, keculai memang gak ada yang dimakan..
.
@adiisa
suara hati yang mana??
.
@ esensi
yaya..saya sependapat dengan anologi km. tujuan memang pada Tuhan..tapi terlalu banyak jalan
halangan, sedang pendirian gak menentu.. halah.halah..sebenarnya kita sependapat gak ya??.
@ gentole
“Blue Bird, memberimu sepasang sayap”
.
@Vincent
sepertinya Anda berlebihan menilai saya..
Comment by peristiwa — November 8, 2008 #
begin yah
setahu aku
kita tidak hidup untuk sesuatu yang abstrak
tapi kita hidup untuk sesuatu yang kongkrit
mengerti kan mksd aku ??
Comment by gua — January 2, 2009 #
@ gua
iya, kira-kira seperi itu.
mungkin hidup adalah untuk itu sendiri.
Comment by peristiwa — January 5, 2009 #