Belajar Menjadi Manusia
November 11, 2008 at 8:03 am | In hidup, islam, manusia, tanya | 14 CommentsSaya adalah seorang gadis anak manusia yang saat ini telah merasa mampu menghidupi diri sendiri *halah narsis*. Eh, tapi entah esok.
Aku juga manusia merdeka mampu menjaga hak-hakku dari orang-orang yang berpotensi menindasku *halah, nyatanya tertindas melulu*. Ya, menjadi manusia terhormat adalah bila dia mampu mempertahankan hak dan memenuhi kewajibannya. Lalu apakah hak dan kewajiban menjadi seorang manusia itu? Ah saya gak begitu tahu dan ndak akan saya bahas di sini, pasti bakalan jlimet.
Aku ingin menjadi seorang manusia. Memangnya selama ini belum menjadi manusia apa? Ah belum, masih belajar. Kebetulan saja lahir menjadi manusia, mungkin kelakuan belum. Lalu dari sekian macam manusia, aku ingin jadi manusia macam apa? Manusia seutuhnya. Manusia yang utuh tuh yang bagaimana? Sebenarnya saya gak tahu juga, tapi pokoknya yang gak jadi peliharaan sesamanya (kayak anjing aja peliharaan
), manusia merdeka yang punya kehormatan. Manusia yang berkualitas *halah*.
Sebagai manusia merdeka aku berani menatap mata siapa saja, kecuali mata para pengemis yang berjajar di jalannan. Biasanya dengan langkah sok keren aku tetap berjalan dan pura-pura tak melihat mereka. Saat itu mungkin mereka mengutukku sebagai manusia biadab. Yah, aku memang biadab!!
Dalam hatiku berpikir, kita sama-sama manusia yang memiliki daya dan upaya untuk menghidupi diri kita masing-masing. Lalu kenapa kau tidak berusaha sendiri, mungkin saja kau hanya pemalas yang tak ingin bekerja. Adalah hakku untuk memberi atau tidak!
Dan sesungguhnya meski tak pernah kutatap, mereka sering juga aku pikirkan. Kemudian aku mulai memikirkan alasan lain, bagaiman bila ternyata mereka telah berupaya, tapi tak berdaya. Yah, lalu aku mulai lebih sering memikirkan mereka. Saat aku makan, saat aku tidur dengan kenyamanan, saat aku punya keinginan biadab beli rumah dan mobil. Aku merasa aku semakin biadab saja dengan keinginan itu.
Bukankah itu hakku untuk membelanjakan uangku. Tetapi sepertinya apa yang aku upayakan dan aku miliki tidak sepenuhnya menjadi hakku. Tidak cukup dengan membayar zakat untuk bisa menikmatinya dengan lapang dada, aku perlu sedikit egois!
Dengan demikian sesungguhnya aku mungkin tidak akan pernah menjadi manusia.
Aku pernah memberikan sebagian hartaku kepada seorang kawan. Ya, memberikan tanpa alasan, hanya karena rasa kemanusiaanku (menurutku memang aku punya rasa itu
). Jumlahnya tidak banyak bagi sebagian orang, beberapa juta.
Nah, sebelumnya ada seorang kawan (cewek) yang mengingatkan (memberitahukan?), “sekali kau memberikan uang pada seseorang, niscaya akan ada yang kedua dan seterusnya..” Saat itu aku hanya mencibirinya, lalu kujawab, “kalau aku memang ada, ya kenapa tidak aku memberi!”.
Beberapa bulan kemudian hal itu benar terjadi. Bila saat pertama aku memberi tanpa pikir sama sekali, maka kedua kalinya aku gelisah. Berbagai pertanyaan menyerangku, berbagai macam teror mengancamku. Takut dia tergantung padakulah, takut hartaku semakin berkuranglah, takut.. macam-macam… lah. Tetapi aku juga takut bila kuburku nanti menyempit dan menghimpitku kuat-kuat.. (Saat seperti itu aku hanya berusaha untuk menjadi manusia yang lebih kejam, tetapi sangat sulit dilakukan)…
Hong Kong, 11 -11-2008
3.55 pm
14 Comments »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
Kita dilahirkan untuk menjadi egois dengan rasa iba dan perasaan bersalah karena telah berbuat “salah”. Menurut saya sih, itulah kemanusiaan — sebuah pencampuran antara Tuhan, malaikat dan iblis.
Comment by gentole — November 11, 2008 #
Ah betul juga, mungkin memang lebih mudah menjadi Tuhan, malaikat dan iblis ketimbang menjadi manusia. Harusnya kita diberi reward atas pencapaian kemanusiaan. Tetapi, yah, apakah kita sudah menjadi manusia? Yang nulis blog aja masih belajar…[apalagi yang menulis komentar ini!]
Comment by gentole — November 11, 2008 #
ya, tapi kadar dari percampuran itu yang susah diukurnya..
. Atau mungkin masih ada campuaran lagi, binatang! Ah saya jadi teringat postingan sampeyan “Jangan Mengaku Beriman Kalau Masih Kaya Raya” *jadi ingin malu saya* !
*Tabik*
.
Atau barang kali untuk menjadi manusia terlebih dahulu harus meningkatkan kualitas hidup?*halah*.. Tapi aneh, ada manusia yang meningkatkan kualitas hidup juga dengan cara yang culas, cara iblis…
.
ah..entahlah.. saya hanya ingin membebaskan pikiran dan keberanian saya, menulis apapun, meski keculasan saya sendiri..
.
Pak Gentole, bagi saya Anda adalah sosok Manusia Yang Agung!
Comment by peristiwa — November 13, 2008 #
…
Comment by esensi — November 13, 2008 #
@esensi

lagi depresi, nak?
ini saya pinjami golok untuk bunuh diri..
.
*ditendang*
Comment by peristiwa — November 13, 2008 #
manusia seutuhnya kalo versi kejawen [tentunya] adalah sosok yang sama luar-dalam. apalagi nih maksudnya? mari kita cari sendiri-sendiri…
Comment by sitijenang — November 13, 2008 #
@Pak SitiJenang
walah…kalau seperti itu mungkin di muka bumi ini tidak ada seorang manusia pun yang benar-benar menjadi manusia seutuhnya.. lha wong yang dalam itu ndak kelihatan..gmn nyamainya..??
Comment by peristiwa — November 14, 2008 #
Selamat malam,
Pertama, terima kasih untuk blog Anda dan cita-cita untuk Anda. Anda adalah benar-benar sebuah
pemikiran orang yang saya kagumi.
Saya menonton sebuah cerita tentang monyet yang lain pada hari Nasional
Channel geografis. Ternyata bahwa, tidak hanya tahu bagaimana melakukan monyet
menggunakan alat sederhana (seperti tongkat poked menjadi gundukan rayap untuk menangkap
Rayap), tetapi telah menemukan bahwa monyet juga untuk mengetahui bagaimana
menemukan dan mengatur tanaman obat dari hutan. Monyet yang memiliki
tanaman yang dipelajari ketika digosok pada tubuh mereka yang baik untuk serangga
dan tanaman yang tahan, ketika bergulung dan menelan keseluruhan, adalah
baik untuk pengambilan parasit cacing dalam sistem pencernaan. Tidak
hanya ini, tetapi pengetahuan ini bervariasi dari satu kelompok ke monyet
lain, karena informasi yang spesifik yang turun melalui
generasi. Kita juga tahu bahawa kedua-dua gorillas dan orangutan memiliki
telah diajarkan bahasa isyarat dan dapat berkomunikasi dengan kami melalui 30 —
40 tanda-tanda mereka telah belajar.
Jadi pertanyaan saya adalah, apa yang membuat kami jadi manusia yang berbeda? Ingat semua
kami sehingga disebut kemajuan-terbang, bangunan, komputer-ada saja
panjang sebagai proses akumulasi pengetahuan. Dengan diri sendiri dan hanya dengan
dipatahkan saya, saya tidak dapat membangun sebuah mobil Anda, jauh lebih sedikit menjamin saya sendiri
kelangsungan hidup di hutan, tanpa beberapa warisan pengetahuan. Apakah kami
kepercayaan pada Tuhan yang membuat kami berbeda? Beberapa philosophers telah berkata
tentang manusia, “Jika Allah tidak ada, maka kami akan jadian-Nya.”
Kadang-kadang saya pikir kami tidak jadi mulia, perang dengan kami, kami belas kasihan, kami
ketidakmampuan untuk kejayaan lebih dari yang paling sederhana masalah yang ada di kami
dunia. Namun kita pergi di dalam dunia ini kami arrogance, terlupa ke
sangat bakat warisan kita sendiri. Apa yang mulia binatang kami.
Perdamaian akan dengan Anda.
-V.
Comment by Vincent — November 16, 2008 #
sebenarnya saya kruang begitu paham dengan komentar Anda, mungkin saja jasa penerjemah google tidak begitu berguna.. tapi gak apa
.
dan pemahaman kita tentang manusia di sini mungkin berada pada level yang tidak sama.
Comment by peristiwa — November 17, 2008 #
Hehehehe…itu komentar terjemahan Google?
Comment by gentole — November 17, 2008 #
@ gentole
*
iyo, pak gentole, deweke wong cino sing dadi wargane obama, ora iso bosoku. tapi ngeyel njaluk alamat blogku, padahal aku wes cegeh karo kono, yo wes lah.. *halah kok malah omong ora karu-karuan tho*
*mugo-mugo gugel ora iso ngartene boso jowo yo
Comment by mengejaperistiwa — November 17, 2008 #
cuma pengin nambahin komen mas gentole… kalo kemanusiaan itu adalah percampuran antara tuhan, malaikat, iblis, dan sedikit rasa [rasa iba, rasa cinta, rasa muak, rasa benci, rasa kelu, rasa keju, rasa pisang, rasa coklat... sampe rasa vodka...]
langsung kabur, takut dimarahin ama yang punya tulisan…
Comment by kenz — November 19, 2008 #
Susah memang menjadi manusia,apalagi manusia baik ataupun manusia sempurnah.tak mungkin sempurna.
hanya dengan menyatu dengan orang lain,saling memberi dan menerima,saling berbagi dan peduli,tapi kembimbangan lebih besar dari rasa itu.rasa takut…rasa tak percaya yang membuat kita teromban-ombing oleh pemikiran dunia.
Kita butuh dan dibutuhkan sesama untuk mencapai sempurna.Yang kita miliki orang lain tak memiliki ataupun sebaliknya,kita saling melengkapi.
bagai sebuah bundaran (bulatan),setiap manusia memiliki sekian persen,pengabungan itulah yang akan menjadi bundaran itu penuh dan utuh.
salam hangat!
Comment by kweklina — December 8, 2008 #
*baca
arisan ibu2 pkkdiskusi diatas*Walah mbak yu, “wong cino sing dadi wargane obama” rasis bgt!
yo wes, mugi2 wae mbah gugel gak ngerti boso jowo..
(tapi saya yakin mbah jenang bisa)
Comment by Lumiere — January 5, 2009 #