Sedikit Tentang Pramoedya Ananta Toer
September 28, 2008 at 4:51 pm | In Indonesia, Pamoedya Ananta Toer, pendapatku | 8 Comments“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”
Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan dalam penjara – sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat: 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969), pulau Nusa-kambangan Juli 1969-16 Agustus 1969, pulau Buru Agustus 1969 – 12 November 1977, Magelang Banyu Manik November – Desember 1979 tanpa proses pengadilan. Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai tahun 1999 dan wajb lapor ke Kodium Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karayanya lahir di tempat purba ini, diantaranya Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca).
Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun menulis. Baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekuen teradap akibat yang akan ia peroleh. Barangkali karyanya dilarang dan dibakar.
Dari tangannya yang dingin telah lahi lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan interasional, diantaranya: The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsaysay Award pada 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, tahun 2003 mendapatkan penghargaan The NorwegianAuthours Union dan tahun 2004 Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagos Escobar. Sampai akhir hidupnya, ia adalah wakil Idonesia yang berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.
(Lentera Dipantara, Bumi Manusia)
Entahlah, mungkin tak pantas aku berbagi sesuatu yang orang lain telah mencicipi, Bumi Manusia. Novel ini telah lama diterbitkan, tetapi baru sekarang aku membacanya. Biarlah, memang agak ketinggalan, tak apa, bagiku.
Tulisanku ini (dan semua postinganku) tak pantas disebut berbagi ilmu, tapi lebih cocok bila aku mengistilahkannya belajar, yaitu belajar bercerita, mengeluarkan pendapat(gagasan), meski itu belum tentu benar, seperti salah satu sifat Nyai Ontosoroh yang ditampilkan dalam novel ini, tak takut mengeluarkan pendapatnya, walau dengan berbagai resiko
Tetralogi Buru (ada empat buku), sekarang ada di genggamanku, belum terbaca semua. Baru Episode pertama yang telah aku ‘lumat’, Bumi Manusia. Pada halaman awal (hal 100 an) aku merasa novel ini biasa, seperti tiada yang istimewa. Tetapi tidak setelah membaca halaman selanjutnya, dan selanjutnya. Sama hal seperti saat aku membaca tulisan Pram yang berjudul “Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer”. Tak berlebihan kiranya bila saya menyatakan bahwa tulisan (gagasan) Pram membuat pembacanya kecanduan.
Salah satu tokoh dalan novel ini adalah Minke, seorang terpelajar, berdarah raja-raja Jawa (bangsawan), baik dan tampan, dia pemuda yang belum cukup matang namun berani menawarkan kebebasan. Seorang anak Jawa yang sering mengutuk tradisi yang ditinggalan nenek moyangnya. Misalnya dalam ‘raungannya’ saat menghadap bupati B. (yang tenyata tak lain adalah ayahahandanya sendiri), “Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang eropa, kalau toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barangkali buta huruf pula. Menghadap seorang bupati sama dengan bersiap menampung penghinaan tanpa boleh membela diri. ..bagaimana manusia, biasa berjalan sepenuh kaki, di atas telapak kaki sendiri, sekarang harus berjalan setengah kaki, dengan bantuan dua belah tangan. Ya Allah, kau nenek moyang, kau, apa sebab kau ciptakan adat yang menghina martabat turunanmu sendiri sebegini macam? Tak pernah terpikir olehmu, nenel moyang yang keterlaluan! Keturunanmu bisa lebih mulia tanpa menghinakan kau! Sial dangkal! Mengapa kau sampaihati mewariskan adat semacam ini?”.
Yah, itu tak lain adalah gagasan seorang Pramoedya. Dan saya sependapat. Bagi saya sulit untuk ‘menjadi’ Jawa, berat agar saya bisa betah tinggal di sana, tetapi itulah tanah airku, yang harus dipelihara, dimakmurkan dan mungkin harus dicintai. Samapi sejauh ini aku hanya mengerti satu saja cara mecintainya, yaitu dengan memperbaiki diri, jiwa raga, lalu kemudian mengatakan pada semua bangsa, “bahwa aku adalah orang Jawa, orang Indonesia. Orang Indonesia tidaklah pemalas, tidaklah kotor, tidaklah bodoh, tidak urakan, orang Indonesia punya wibawa”.
Dn ternyata aku hanya berkhayal. Indonesia terlalu berat untuk dijunjung, menjunjung wibawa Indonesia berarti menjunjung dosa para koruptor. Koruptor adalah penjajah bagi negerinya sendiri, mereka tidak punya malu, karena malu tidak ada harganya di dalam ilmu pengetahuan dan pemerintahan. Maka bila ada kesempatan alangkah baiknya bila kemaluan mereka dipotong saja, sampai kepangkalnya.
Pram mengambarkan bahwa kehilangan adalah salah satu tahap menuju kematangan, seperti yang terjadi pada Minke, setelah dia kehilangan Annelies, bonekanya yang cantik nan rapuh. Kematian Annelies adalah batas yang menunjukkan bahwa masa mudanya telah berlalu. Hal ini saya juga menyetujuinya, seperti pengalaman pribadi.
Namun saya agak heran dengan irama yang dimainkan Pram, yaitu tentang persetubuhan Minke dengan Annelies. Saya tak menyangka Pram mampu menulis hal sedemikian panas (menurut parameter saya). Pram mengungkapkan bahwa persetubuhan atas dasar saling mencintai adalah lebih mulia dibanding persetubuhan antara seorang Nyai dan Tuannya. Hal ini dia paparkan melalui mulut Nyai Ontosoroh saat meronta karena dikeluarkan dari ruang sidang.
Ya, pada masa itu mungkin memang demikian. Persetubuhan antara dua orang yang saling mencintai lebih mulia dari pada persetubuhan didalam perbudakan. Walau saya kurang sreg, tetapi saya berusaha memahami, nilai benar dan salah tidak kaku, karena masa yang menentukannya.
*Sementara itulah catatan tentang Tetralogi Buru, mungkin akan berlanjut dengan catatan berikutnya, bisa saja tidak seirama dengan catatan ini atau justru menguatkan, lain kali saya ingin bercerita lagi, melanjutkan kebagian kedua*
Hampa; Bercinta Yang Tak Terlalu Mesra
September 17, 2008 at 5:15 pm | In Tuhan, islam, protes, tanya | 11 CommentsAku heran, iri, melihat orang-orang yang begitu mesra dan intim dalam bercinta. Kenapa hal itu sulit bagiku. Yang ada kadang cuma kewajiban semata. Tidak mesra! Huh! Entahlah, siapa yang menjadi pemicu keadaan ini? Perasaankah, tempatkah, waktukah, konsentrasikah, gaunkah atau kah-kah lainnya..
Bahkan kadang aku menjadi agak malas, aku tau sudah lama ditunggu, tapi laptop sialan ini masih saja menawanku, kandang buku atau novel yang melarangku pergi… Meski pada akhinya aku datang juga, di akhir penantian, ya, untuk bercinta, bercinta yang tak terlalu mesra… Ala kadarnya, hanya untuk sebuah kewajiban, belum menjadi kebutuhan, sungguh merana orang semacam aku ini..
Hampa. Bagaimanakah bercinta yang lebih mesra? Mungkinkah karena kurang rangsangan? Atau sebenarnya hanya aku saja yang kurang peka.. Ahh..!!
Aku ingin bercinta, ingin mesra, tak ingin lepas, ingin selalu menginginkan, merinduiNya. Kenapa harus dengan solat bila ingin bercinta denganNya? Tidak bisakah sambil tiduran saja? Padahal aku kadang merasa lebih dekat denganNya saat memikirkanNya, sambil ngelamun, saat menelusuri berbagai peristiwa.
Kapan aku bisa merasakah puas, Dia juga puas, dalam hubungan intim, dalam setiap sujud, dalam setiap doaku padaMu ya ALLAH, dalam setiap syukurku padaMu ya ALLAH…
Bila aku masih saja kurang peka terhadap rangsangaMu, penantianMu,..?
Semoga saja Engkau tidak kecewa, tidak marah padaku ya ALLAH, dalam hubungan yang tak terlalu mesra ini..
Rengkuhlah aku lebih erat ya ALLAH, aku tak ingin lepas…
Aku ingin selalu mencintai MU..
Aku ingin selalu dekat dengan MU..
Iya, aku akan datang, memenuhi penantianMU, bercinta yang lebih mesra…
Semoga Kau tak marah padaku..
Surat (II)
September 12, 2008 at 2:05 am | In asmara, nglantur | 2 CommentsUntuk Miming, kawanku
Tahun ini, ramadhan ini, lebaran ini…
Aku tak ingin menelpon km
Karena aku tak bisa membedakan suaramu yang sepertinya sedang menyesal atau,
suaramu sedang merasa enggan…
Aku tak ingin membuatmu merasa tak nyaman
Miming, sepertinya tulisan juga mampu menggemakan bunyinnya sendiri…
Bahkan mungkin akan lebih kau dengar dibangding suaraku sendiri…
Maka, bacalah dan maapkanlah aku…
Aku pernah berdosa padamu…
Aku pernah mencintaimu…
Aku mohon maapkanlah aku…
Miming,
Setiap dosa harus selalu ditebus…
Sedang perbuatan baik dan cinta akan selalu mendapatkan hukuman..
Selamat Lebaran, Miming, kawanku…
Mencari Lingkaran dan Pasangan; Tuhan Bukan Satu-satunya Yang Abadi
September 10, 2008 at 3:24 am | In Tuhan, islam, pendapatku, tanya | 11 CommentsPostingan yang sering muat dan laris saat ini adalah tentang Tuhan dan seperangkatnya. Tetapi memang, semua yang ada di semesta ini tak mungkin lepas dari Nya, hal itu menjadi niscaya bagi yang percaya bahwa Dia ada.
Sepertinya Tuhan menciptakan segala di semesta ini berupa lingkaran, dan berpasang-pasangan. Setiap siklus selalu membentuk lingkaran, dan setiap sesuatu selalu berpasangan. Tuhan berpasangan dengan hamba (benarkah demikian?), pasang dan surut, gelap dan terang, laki-laki dan perempuan, laut dan darat, air dan api dan tentu saja semua hal (sesuatu). Ya!
Dan siklus, sepertinya setiap siklus akan selalu berupa sebuah lingkaran, di mana titik awal itu dimulai, maka titik akhirpun juga akan di sana. Manusia berasal dari tanah dan kembali ke tanah, peredaran planet-planet selalu membentuk lingkaran (berputar dari titik awal dan kembali ke titik awal, tapi entah dalam sebuah lingkaran di manakah titik awal itu), matahari selalu kembali kepada pagi. Ya, ada yang mengatakan sebagai perulangan abadi. Konsep penciptaan alam ini sepertinya selalu menggunakan dua hal tersebut, lingkaran dan berpasangan.
Dari tiada, ada dan kembali tiada. Tetapi benarkah akan kemabali pada tiada?. Bila sesuatu pernah ada maka tidak mungkin akan benar-benar musnah, meski tidak ada lagi masa yang membungkusnya, meski ditiadakan oleh Tuhan sekalipun. Karena segala sesautu akan meninggalkan sejarah, dan satu-satunya sesuatu yang tak kan pernah musnah selain Tuhan adalah sejarah. Meski semesta ini telah lenyap, sejarah tidak akan dapat diingkari, oleh siapapun, bahkan Tuhan.
Dia tak kan mungkin mengingkari bahwa Dia pernah menciptakan manusia, meski manusia itu telah ditiadakanNya. Manusia, iblis, malaikat, alam semesta ini bisa saja lenyap hanya dalam satu kalimatNya, “Kun fayakun!”, musnahlah, maka musnahlah!. Tapi sejarah tidak akan pernah lenyap, tidak akan pernah lenyap.
Darah, Kutukan atau Kematian
August 25, 2008 at 8:08 pm | In islam, pendapatku, protes, tanya | 11 CommentsAda bercak darah di sana, merah, dan segar! Saya curiga, jangan-jangan itu darah kutukan.. sampai saat ini saya masih curiga dan menduga-duga. Darah apakah? Padahal belum genap 3 minggu dia datang, hanya sebercak, dan tidak lagi..
Bagi laki-laki darah adalah hal asing [mungkin], tetapi perempuan, tidak.
Tetapi entah kenapa saya masih saja ngeri menyaksikan penyembelihan hewan, rasanya hati ini seperti diiris-iris meyaksikan ritual kematian itu. Ada nyawa melayang. Ayam, sapi, kambing, bebek, kerbau, gajah, kelinci, truwelu, dan sebagainya..
Tapi mereka, hewan-hewan itu dimuliakan oleh Tuhan, buktinya ada syariat yang memerintahkan penyembelihannya mengikuti apa yang telah ditentukan Tuhan. Diantaranya ada di posting saya beberapa waktu yang lalu. Klik saja.
Dan yang menjadi pertanyaan saya di sini, kenapa hal itu tidak diberlakukan pada ikan? Baik ikan laut maupun ikan air tawar, udang, kepiting, kura-kura, dan semua yang dari laut??
Gusti ALLAH menyatakan dalam firmannya,
“Dialah Zat yang memudahkan laut supaya kamu makan daripadanya daging yang lembut.” (an-Nahl: 14)
“Dihalalkan buat kamu binatang buronan laut dan makanannya sebagai perbekalan buat kamu dan untuk orang-orang yang belayar.” (al-Maidah: 96)

Binatang laut dapat dikonsumsi dalam kondisi apapun, masih segar atau sudah bangkai, ditangkap oleh kafir ataupun muslim. Yah, tidak perlu ritual yang macam-macam seperti binatang di darat. Kenapa? Apakah Gusti ALLAH tidak memuliakan binatang laut itu, sehingga tidak perlu doa ketika mematikannya ? Pemikiran yang salah! Mungkin saja!
Ikan biasanya hanya dipukul kepalanya agar dia mati yang kemudian bisa di bersihkan.

Lobster juga demikian [kalau untuk lobster biasanya terlebih dahulu ditusuk pada bagian bawah hingga tembus kebagian lehernya agar air kencingnya keluar, karena kalau sudah mati air kencing akan sulit dihilangkan dan terkonsumsi], bahkan udang kecil-kecil itu hanya cukup dicuci dan di rebus hidup-hidup lalu dimakan.
Apa yang membedakan binatang air itu tidak perlu ritual untuk kematian mereka? Alasan yang jelas memang karena sudah dihalalkan oleh Sang Pencipta.
Tetapi saya ingin menanyakan dari sudut lain.
Mungkinkah karena jumlah mereka yang terlalu banyak, sehingga Tuhan tidak mau merepotan hamba-hambanya dengan berbagai macam ritual itu? Atau karena sulitnya menangkap mereka dalam kondisi yang masih hidup dari laut? Atau apa? Tolong, berikan masukkan..!!
Tetapi, saya memikirkah satu hal untuk jawaban dari hal itu. Kenapa hewan darat perlu ritual, dan hewan laut (air) tidak perlu, jawaban saya adalah DARAH.
Binatang darat adalah bintang yang berdarah, dan perlu proses yang benar untuk mengeluarkan darahnya. Sedang binatang laut, meski berdarah, adalah terlalu sedikit darahnya, sangat sedikit, kecuali belut. Sedang tentang dimuliakan atau tidaknya nyawa mereka, saya tidak tau alasannya, kenapa? Tuhan masih saja menyimpan rahasia.
Yah, bukan Tuhan kalau tidak Maha Merahasiakan.
*semoga saya diampuniNya*
Menurut Anda, kenapa?
Surat
August 23, 2008 at 6:20 pm | In asmara | 1 CommentUntuk Miming,
“Kenapa kau tinggalkan aku?”, tanyaku.
“Karena aku tidak suka setelah melihatmu!”, jawabmu.
Penggalan kalimat itu, kau ingat kan?
Tak ada yang salah dari alasanmu. Benar. Siapapun berhak berubah, berhak memilih.
Sekedar kilas balik, Miming. Tentang masa lalu. Bagiku masa lalu tidak harus dilupakan, baik yang senag maupun yang menyedihkan. Masalalu adalah sejarah hidup, Miming. Aku tak kan melupakan masa lalu itu, tapi akan senantiasa belajar menempatkannya, pada sisi yang sebijak mungkin.
Kurang lebih dua tahun yang silam, kita bertengkar!! Saling mengutuki, saling mencela, saling menyalahkan! Hal itu merupakan proses yang berat bagiku, sekaligus sangat berharga.
Dan..
Devi! Aku terpikat pada gadis itu! Dia, gadismu yang sekarang! Selamat Miming! Aku ikut bahagia!
Yah, dua tahun aku menantikan. Kau minta maap padaku! Atas ingkar, atas penghianatan. Tapi sudahlah, bukankah semua tetap berjalan lancar-lancar saja. Tidak ada yang perlu dirisaukan!
Ternyata kau cukup tangguh, Miming. Mampu menghadapi nuranimu. Karena kau tau? musuh seorang penghianat adalah sebuah hati (nurani), bukan hati yang dihianati, tapi hatimu sendiri. Dan kau benar-benar tangguh!!
Kalau bicara soal salah, tentu aku tak luput dari salah. Tapi aku bukan penghianat! Aku bukan!!!
Aku telah mengakui kesalahanku, keburukkanku, dan aku mau minta maap padamu!!
Aku memohon maap atas segala salahku, Miming…!! Aku mohon ridhomu, kerelaanmu..!!
Dan aku menyadari, sesungguhnya persoalan telah selesai di sini!
Aku tidak memerlukan “kata maap” darimu, Miming, bila hanya agar aku lebih merasa s(t)enang.
Surat ini sekedar permohonan maap dan kilas balik, tentang sebuah sejarah, aku dan sebuah nurani yang telah mati!
Hong Kong, 24 Agustus
02.16 am
Gattyna
Hal-Hal Yang Tak Berguna dan Syair Gus Tf
August 22, 2008 at 9:02 am | In hidup, nglantur, syair Gus TF, tanya | 10 CommentsApalah yang bisa ditulisakan oleh blogger resah seperti aku ini, selain nanah dan darah, selain bau amis kegelisahan dan kepedihan. Hal-hal yang tak berguna!! Tentu saja aku bukan satu-satunya orang yang menderita di dunia ini, bahkan ada yang lebih menderita dari aku. Namun, rasanya aku sudah tidak tau lagi bagaimana caranya berbahagia. Membeli baju barukah? Shopping? Membantu sesamakah? Atau menenggelamkan diri kepada buku-buku dengan tulisan International Bestseller di sampulnya? Atau bersyukur dan berdoa?
Bersyukur, hal itu membuatku merasa semakin tak berguna saja. Bagaimana tidak, aku dibuat berpikir bahwa mungkin dari beberapa sisi aku lebih baik dari beberapa orang di luar sana
, lalu mengapa tetap saja tidak mampu berbuat apa-apa? Betapa tak bergunanya aku ini..!! Lalu apa manfaat bersyukur kalau seperti ini? Menyenangkan Tuhankah, berterimakasih padaNya? Sesungguhnya Tuhan memerlukankah hal demikian itu? Dan kepura-puraan dari hambanya?
Meski memang, kepura-puraan tidak selalu jahat, mungkin itu bisa juga berarti sebuah perjuangan dari berbagai macam variasinya.
Berdoa, aku lupa sejak kapan aku tidak melakukannya. Tapi aku masih berdoa untuk kedua orang tua dan sodara, juga untuk orang-orang yang meminta dan ingin aku doakan. Dan untukku? Entahlah, aku merasa seperti penjilat saja dihadapan Tuhan, bila aku minta macam-macam atas apa yang aku jalankan. Aku hanya ingin selalu dekat denganNya. Tapi entahlah Dia di mana? Adakah Dia di dalam buku-buku yang aku baca itu, adakah Dia di layar laptop yang sering aku pelototi itu? Adakah Dia pada buah apel yang sering aku kunyah itu? Tetapi konon, kata orang-orang alim itu Gusti ALLAH berada lebih dekat dari urat leher kita! Mungkin!? Tapi menurutku Tuhan yang hanya satu itu tidak selalu bersama kita, kalau Dia sekarang sedang bersama saya, Dia pasti tidak sedang bersama Anda, Dia kan hanya Satu. Tetapi Dia selalu mengawasi dan mengetahui segala tentang kita, entah bagaimana caraNya..
Berdosalah aku atas apa yang aku pikirkan, rasakah!!
Tetapi mungkin tidak bila kategori dosa itu di ambil dari pernyataan Baba [dalam novel The Kite Runner karya Khaled Hossaeini]; Dosa hanya ada satu jenis saja, yaitu ‘mencuri’! Kalau kau membunuh seorang pria, kau mencuri kehidupannya. Kau mencuri seorang suami dari isterinya, merampok seorang ayah dari anak-anaknya. Kalau kau berbohong, kau mencuri hak seseorang untuk mendaptkan kebenaran. Kalau kau berbuat curang, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan keadilan. Tidak ada tindakan yang lebih hina daripada mencuri.
Itu merupakan gagasan gila, menurutku, tapi masuk akal juga.
Tapi entah mengapa, aku yakin Tuhan akan mengampuni aku. Dia Maha Penyayang, Pemurah, Pengampun, Pengasih..
Dia bukan Maha Ngambek, bukan Maha Marah, bukan maha Kejam..
Aku yakin Dia senantiasa memaapkan aku, seperti seorang ayah yang menimang kembali anaknya yang kemaren mencakar wajahnya, seperti seorang ibu yang meciumi anaknya yang baru menumpahkan masakan yang akan dihidangkannnya, seperti seorang kekasih yang memanjakan pujaannya yang pernah menghianatinya..
Apalagi Gusti ALLAH, Dia Maha Pengampun, Penyayang, Pemurah..
Ahh..berpikir praktis seperti ini kadang lebih membuat nyaman..
Dan kini, yang ada dipikiranku hanyalah PULANG!! Aku membayangkan sebuah rumah untukku tinggal, mungkin rumah kontrakan atau sebuah kamar apartemen, atau apa sajalah, asal aku bisa pulang. Sebenarnya apakah yang ada di dalam pulang itu? Aku tidak tau! Apakah harus ada keluarga? Ada bapak, ibu, kakak, adek, dan semacanya itu?
Aku tak mau berharap banyak, karena harapan lebih sering menghianati aku.
Lalu untuk apa aku hidup? Mungkin untuk berjuang, berjuang yang tanpa harapan , berjuang untuk entah, bernjuang untuk kepatuhan mungkin, karena tidak ada yang bisa kulakukan selain itu.
Kadang aku ingin megurung diri saja, tidak bertemu siapapun, tidak menghadapi kenyataan apapun, sebuah pilihan menjadi seorang pengecut. Namun, aku ragu, mampukah aku menghadapi nuraniku sendiri, karena masalah seorang pengecut, penghianat adalah nuraninya sendiri..
Ah, rasanya penderitaan menghadapi kenyataan lebih baik, dari pada kenyamanan dalam kebohongan..
Tiba-tiba ingin sekali menikmati syair Gus TF, Jam nol-nol!
Jam nol-nol..
Ketika keranda kutarik bumi tak melirik
Sepi merapat memelukku erat
Dingin..
mendekatkan langkahku
yang bersiul menuju
kuburan zaman
Jam nol-nol
Ketika bulan dan matahari
Kutinggalkan
Dalam mabuk liar mengerikan
Sebentar lagi
Lewat jam nol-nol baku hamtammu kan terjadi
Pertumpahan darah itu pasti
Jam nol-nol..
Ketika pesta lewat puncak
Kubayangkan satu
Atau dua-duanya kan mati
Bulan dan matahri
Jam nol-nol..
Jam nol-nol..
Jam nol-nol..
Keranda kumasuki..
Pertanyaan Seorang Pendo(s)a
August 12, 2008 at 6:50 am | In hidup, islam, pendapatku, tanya | 9 CommentsSiapakah yang lebih hina, pelacur yang menjual tubuhnya atau pembeli tubuh yang dilacurkan.
Di sini saya tak percaya bila ada pelacur yang mengatakan bahwa dia terpaksa menjual tubuhnya demi mempertahankan hidup. Bukankah masih ada pilihan. Meski Firdaus dalam novel Perempuan di Titi NOL karya Nawal-el Saadawi berani membunuh mucikarinya, namun pilihannya menjadi seorang pelacur tidak juga saya pahami. Bukankah dia bisa mencari pekerjaan yang lebih terhormat.
Dan ironis, dia juga harus menuju tiang gantungan setelah membunuh germo itu, tetapi dia hadapi sang maut tanpa rasa takut, bahkan dia menyambutnya dengan gembira. Dia wanita perkasa, namun sayang dia tetap saja seorang pelacur… dia diperdaya oleh hidup.
*ahh..ngomong apa saya ini…??? *
Dan laki-laki, saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan.. kenapa mereka mau bercinta dengan yang bukan haknya?
Sebenarnya siapa yang menciptakan dunia pelacuran? Perempuankah? Lelakikah? Kehidupankah? Kebutuhankah? Kemauankah? Kebodohankah? Setankah? Siapa??
Anda, bagaimana memandang…?????
*Oya, novel itu diangkat dari kisah nyata*
[Teman saya mengatakan, bahwa tulisan saya terkesan menggurui, tetapi sungguh, tiada niat demikian, saya hanya melahirkan apa yang terkandung dalam jiwa saya, akal saya, dan belum bisa menrangkai kata-kata yang tetap untuk menyampaikan. Mungkin niat memang tak selalu sesuai dengan hasilnya. Mohon maklum ya..!!
]
Monolog;Suara Kekalahan
August 12, 2008 at 5:53 am | In hidup, nglantur, pendapatku | 5 CommentsAku sedih sekali, karena disriminasi masih berlaku..
Aku sedih sekali, saat aku ingin pulang, tetapi tak ada rumah untukku pulang..
Aku sedih karena yang buruk rupa masih dihina..
Aku sedih karena persahabatan ‘dimanfaatkan’..
Aku sedih karena yang kecil masih tak di dengar..
Aku sedih..
Tetapi aku tak boleh menangis..
Aku harus melawan..
Aku akan melawan dunia..
Meski hidup hanya menunda kekalahan..
Malam ini aku memutuskan (memaksakan) untuk tidak takut hidup sendiri..
*Semula aku memilih diam, tetapi entahlah..aku ingin juga menyuarakannya.. meski tak kan didengar, karena memang tidak enak didengar, kebanyakan orang lebih suka mendengar yang menyenangkan, menghibur, memintarkan, dan entah..
Rasanya aku telah dihianati, kecewa, tetapi inilah kenyataan. Kenyataan adalah ketidakbenaran yang harus diakui bahwa ini adalah normal.*
Aku iri pada kalian, yang setiap hari bisa pulang..
Fenomena Penyembelihan Hewan
August 6, 2008 at 2:35 pm | In islam, tanya | 8 CommentsBagi saya melahirkan apa yang terkandung di dalam pikiran masih saja menjadi hal yang tidak gampang. Sesungguhnya keinginan untuk menuliskan tentang masalah ini sudah sejak beberapa bulan yang lalu. Tetapi karena belum cukup bahan, saya membiarkan untuk tetap mengendap di dalam pikiran.
Berawal dari perbincangan dengan seorang teman muallaf tentang penyembelihan hewan dengan aturan islam beberapa bulan lalu, saya mulai bertanya-tanya, mencari-cari, dan menduga-duga. Sebenarnya apa bedanya hewan yang disembelih dengan mengikuti syari’at islam dengan hewan yang dipotong begitu saja?? Kenapa ada daging yang hala dan haram?
Ahh..biarkan saja tulisan ini lahir, walau belum cukup data dan premature..agar tak menjadi kerak dalam ingatan saya yang akhirnya melumut dan jamuran, lalu membusuk dan tak berbekas..
Tata cara penyembelihan hewan (versi islam), diantarnya kurang lebih sebagai berikut:
a. Berniat atas nama ALLAH SWT, ternyata dengan berniat (menyebut nama Allah) saat menyembelih hewan akan membantu proses mengalirnya darah sembelihan dengan lebih lancar. Hal ini karena semua mahkluk berserah diri pada Allah (tentu saja termasuk hewan), jadi bila disembelih dengan menyebut nama Allah, hewan tadi akan lebih tenang sehingga detak jantungnya tetap normal yang akan berakibat darah terpompa keluar dengan maksimal.
b. Binatang harus disembelih menggunakan benda tajam (pisau) dan dalam waktu yang sesingkat mungkin agar binatang yang disembelih tidak terlalu merasa kesakitan.
c. Potonglah rongga pernapasan, tenggorokan dan pembuluh leher yang dapat membunuh binatang tanpa harus memotong urat syaraf tulang belakang.
d. Darah harus dialirkan, darah binatang yang disembelih harus benar-benar dialirkan sebelum kepalanya dipotong. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengeluarkan semua darah yang menjadi tempat berkembang biaknya mikro organisme. Urat syaraf tulang belakang tidak boleh dipotong terlebih dahulu, karena dapat merusak syaraf fiber yang berhubungan dengan jantung selama proses penyembelihan sehingga menyebabkan penghentian detak jantung, maka darah akan tetap menggenang dalam pembuluh darah, daging menjadi mudah busuk dan tidak sehat untuk dikonsumsi.
Darah menjadi tempat berkembangnya kuman, bakteri, racun dan unsur merugikan lainnya. Oleh karena itu penyembelihan binatang yang dilakukan oleh umat Islam lebih higienis dimana semua darah yang mengandung kuman, bakteri, racun dan unsur lain yang dapat mengakibatkan terjangkitnya berbagai penyakit harus dialirkan atau dibuang. Yang tujuannya agar kita tak mengkosumsi darah si hewan tadi, sehingga bila hewan tadi menderita penyakit tertentu kita tidak tertular.
Daging binatang yang disembelih dengan cara Islami akan tetap segar dalam waktu yang lama karena kurangnya darah dalam daging dibandingkan dengan daging binatang yang disembelih dengan cara lain.
Penyembelihan yang dilakukan dalam waktu singkat dengan memotong pembuluh leher yang tidak berhubungan dengan aliran darah menuju syaraf otak yang mampu merespon rasa sakit. Oleh karena itulah binatang yang disembelih secara Islami tidak merasakan sakit. Ketika sekarat binatang itu menjadi kejang, gemetar dan menendang-nendang tanpa merasa kesakitan, tapi disebabkan oleh kontraksi dan relaksasi otot-otot sehingga darah akan mengalir ke luar tubuh.
Hal di atas sudah cukup jelas untuk membedakan bahwa yang halal lebih baik dari yang haram, tetapi kenyataan tetap memaksa saya untuk bertanya. Kenapa dari sekian banyak manusia yang mengkonsumsi daging haram tetap sehat walafiat? Hal ini mungkin mirip dengan bila saya bertanya, kenapa orang yang korupsi tetap makmur dan semakin kaya saja?? Daging babi, yang nyata-nyata sudah dinashkan haram dan mengandung cacing pita yang tak kan mati meski telah dimasak semala berjam-jam, tetapi kenapa orang-orang yang mengkonsumsinya bahkan setiap hari pun tidak juga dibahayakan oleh kumannya??
Yah, di sini mungkin jawabanya adalah pilihan, keyakinan kita. Entahlah..
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.