Panen pisang

Desember 30, 2013 pukul 4:28 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

ya ampun senangnya.. dalam sekali waktu panen dua tandan pisang! 😀

Kasihan

Juli 20, 2013 pukul 4:22 am | Ditulis dalam hidup, rasa | Tinggalkan komentar

Seringkali kita merasa kasihan. Kasihan kepada orang yang teraniaya, terhianati,  terlantar, kekurangan, tak punya kesempatan, dlsb. Namun rasa kasihan itu hanya mampir sekejap saja, seperti bus yang mampir pada setiap halte yang kemudian memberikan setiap pemandangannya sendiri. Rasa kasihan itu tidak pernah terbawa pada mimpi-mimpi kita di tidur pada malam hari, apalagi pada perbuatan nyata untuk memberi. Rasa kasihan hanya hinggap sebentar dan lalu kita kembali pada kehidupan kita yang nyaman.

Alasan kenapa kita hidup muram atau riang

Juni 28, 2013 pukul 11:57 pm | Ditulis dalam agak ngawur, berbau motivasi, hidup | Tinggalkan komentar

Carefree Baby
Sependek yang aku tau dari pengalaman dan analisa mandiri (pribadi) sifat periang dan sifat muram itu disebabkan oleh energi yang diterima masing-masing. Bila Anda temui seorang yang senantiasa riang bisa dipastikan bahwa dia selalu mendapatkan suntikan energi  positif dari lingkungannya, misalnya keluarga, teman, atau rekan kerja. Energi positif itu bisa dalam bentuk, menghormati, menghargai, membebaskan (tidak menekan/menuntut), memberi kesempatan, kejujuran (tidak membohongi), perhatian, kasih sayang, menerima, dlsb.

Energi positif yang diterimanya akan menghasilkan energi positif pula bagi lingkungan sekitarnya. Periang seperti kita tau adalah orang yang gemar tertawa/tersenyum, suka menyapa, mudah bergaul, terbuka, lembut, penyayang, dlsb. Seorang periang bukan riang karena takdir, tetapi lingkunganlah yang membentuk pribadinya, bahkan lingkungan sejak dia baru lahir. Maka dari itu berikanlah energi positif kepada lingkungan kita dimanapun berada. :))

bayif8

Lain halnya dengan seorang pemuram. Sosok ini merupakan korban dari lingkungan buruk, lingkungan yang carut marut yang memberikan energi negatif. Lingkungan yang tidak adil, menekan, merendahkan, membohongi, menuntut di luar kemampuan, tidak menerima, kasar, acuh, dlsb. Sumbernya adalah dari orang-orang di sekitarnya, terlebih orang yang dekat yang akan memberikan dampak paling buruk, yaitu keluarga, teman atau lingkungan kerja. Dari energi negatif yang disuntikkan kepadanya itulah akan mengenalkannya pada hal-hal seperti dendam, amarah, mencurigai, tidak mudah percaya, kasar, liar, muka masam, dlsb.

Saya lebih suka menyebut si muram ini sebagai korban. Karenanya mereka perlu lebih disayangi dan diberikan kesempatan. Kita tidak bisa penuh penyalahkan orang yang menjadi korban lingkungan yang buruk atas sikap buruk yang dilakukannya.

Meski ada diantara mereka yang mampu menetralkan energi negatif, namun hal itu seringkali dilakukan dengan susah payah.

Maka bila Anda telah menyadari bahwa Anda hidup di lingkungan yang tidak adil, lingkungan yang kasar, lingkungan yang penuh tipu daya dan kebohongan dlsb, segera tinggalkan dan putuskan rantainya.

Sesungguhnya sikap dan tindakan kita merupakan sumber energi. Bila sikap/tindakan kita buruk/negatif maka itu akan merusak, berdampak buruk mulai dari psikologis, hingga psikis. Mulai dari jangka pendek hingga jangka panjang. Misalnya saja…silahkan Anda pikir sendiri!

Demikian sebaliknya bila kita bersikap/bertindak positif/baik maka demikian juga yang akan tercipta adalah keindahan, kesenangan, kebahagaian, dan kemajuan.

Tersenyum

Juni 26, 2013 pukul 5:21 am | Ditulis dalam hidup | Tinggalkan komentar

Mereka yang bisa selalu merekahkah senyum adalah mereka yang tidak bertemu dengan orang-orang yang melakukan perdaya. Mereka berada dalam lingkungan yang adil dan tanpa dusta.

Berpikir Jernih

Juni 18, 2013 pukul 8:43 am | Ditulis dalam hidup | Tinggalkan komentar

Hidup itu berbagi dan tidak mengatakan kebohongan.

Kembali ke Hijab

Juni 17, 2013 pukul 1:03 pm | Ditulis dalam hidup, Tuhan | Tinggalkan komentar

Saya kira, berhijab adalah untuk mengkuduskan diri di jalan Illahi. Terlepas dari berbagai perdebatan bahwa itu sunah atau wajib.  Terlepas itu pada pengaruhnya terhadap syahwat laki-laki. Karena hijab adalah bentuk keimanan, ketaatan pada jalan Illahi.

Ketika kita menjadi saksi

Mei 2, 2013 pukul 8:56 am | Ditulis dalam hidup, manusiawi | Tinggalkan komentar

Ketika menjadi saksi penindasan, kekejaman, korupsi, penghiatan, perselingkuhan, penderitaan, dan.. dan… dan….
Yang sering kita lakukan hanya diam, tak berbuat, tak melapor, tak mencegah, tak menegur, tak  membantu, tak… dst
Karena kita merasa itu bukan urusan kita, kita takut, kita lelah, kita ogah repot, kita malas, kita tak mampu, kita ngatuk, kita mau enak, kita… dst

Karena KITA berpikir demikianlah “seharusnya” dunia.

Nafkah

April 30, 2013 pukul 8:31 am | Ditulis dalam curhat, hidup | Tinggalkan komentar
Tag:

Tadi, sebelum tengah hari, atau mungkin pas tengah hari ada perempuan pemulung yang mondar-mandir di sekitar rumah. Pas matahati terik-teriknya. Entah kenapa hari ini terik luar biasa. Apakah karena matahari ingin menambahkan ujian pada pemulung yang kulihat mengidap gondong itu (lehernya membesar).
Aku menawarinya dua buah kardus bekas minuman instan. Ambillah di belakang, aku bilang. Lalu kulanjutkan aktifitasku menyiram rumput dan tanaman. Belum selesai aku bermain air, dia datang lagi. Karungnya kosong lagi, entah disetor kemana. Aku lihat dia jalan begitu cepat, terlihat bersemangat. Padahal aku yang sedang di tempat teduh dan bermain air ini masih mengeluh, panas sekali.

Lalu aku menawarinya lagi kardus, dia bilang mau. Tunggulah di sini aku ambilkan. Bergegas aku ke atas. Dari atas aku lemparkan beberapa kardus (bekas wadah monitor, CPU dll), mungkin selusin atau lebih. “Minggirlah ketempat teduh, nanti kau tertimpa!”, pintaku padanya. “Ndak apa-apa,” kembaliannya sambil melipat-lipat kardus dan masih bersemangat.

Aku hanya terheran melihatnya. Sungguh aku tercenggang.
Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana dia bisa sumringah hanya karena dapat kardus bekas?
Sampai kini aku tak mengerti. 😐

Apakah dia tidak iri melihat pohon cabe yang diberikan Tuhan tumbuh dengan rindangnya di pekarangan rumahku. Karena aku sangat gembira memiliki pohon cabe itu, meski aku tak menikmati cabenya juga.
Karena ini tentang kebahagian, kegembiraan, kepuasan yang tak melulu dinilai dengan nominal wang. Aku ingin sekali tau apa yang dipikirkannya. 😐

DSCF7535[1]
Di sini aku teringat kata Bapak, katanya, “Hendaknyalah mencari nafkah jangan dengan menjadi buruh. Berwirausahalah meski sekecil apapun, karena suatu saat itu akan berkembang, dan itu lebih baik dari menjadi buruh,” wejangnya.

Dan, pemulung itu aku pikir dia juga seorang yang menjadi majikan bagi dirinya sendiri. Dan aku menghargainya sebagai seorang yang membantu menghijaukan kembali lingkungan ini, bumi ini.

Coretan

April 29, 2013 pukul 2:33 am | Ditulis dalam curhat | Tinggalkan komentar

images
Jika kubaca kembali post-post yang telah aku publiskan dahulu aku merasa ada yang berbeda pada (pikiranku) diriku, setidaknya secara ke-blogger-an. 😀
Ya terang saja, karena hidup ini tentu tidak konstan. Hidup (pikiran) ini bergerak kemana pengalaman kenyataan membawa. Tapi saya percaya bahwa hidup ini sesungguhnya lunak dan bisa diatur.

Ah, ya, kembali ke masalah soal postingan dahulu dan kemaren (kini), saya merasa saya dahulu lebih baik dari kemaren (kini). Saya pikir dahulu pikiran-pikiran saya murni, meski dibumbui kebodohan, ketololan dan kenaifan. Tapi setidaknya tidak seperti kemaren (kini) yang berdendam, curiga berlebihan, kolot dan keras kepala, dan lagi kasar.

Tapi saya tak menyalahkan penuh diri ini, karena diri telah mengalami berbagai pengalaman kenyataan yang bertubi-tubi, pengalaman berat melindungi diri agar tak terlindas. Dan kini merasa telah sampai pada tepian itu.

Setidaknya kini tak terlalu lambat untuk disadari, setidaknya kini masih ada waktu untuk kembali memperbaiki dan belajar kembali kejalan yang kudus.

#Semangat! 😉

Makanan “Tipu-Tipu”

April 28, 2013 pukul 5:59 am | Ditulis dalam curhat, otak telanjang | Tinggalkan komentar
Tag: ,

cara-membuat-bakso
Saya pikir saya seorang yang menganut gaya hidup sehat, makan makanan sehat, berolah raga dan tidur cukup. Bahkan saya berencana untuk menjadi seorang vegetarian.

Ngomong-ngomong soal makanan sehat yang saya dapat dari berbagai sumber adalah makanan yang segar (bukan diawetkan), murni (bukan buatan; misal berbahan kimiawi), dan tentu saja yang mengandung berbagai jenis nutrisi yang baik untuk tubuh. Bergaya hidup sehat saya kira adalah salah satu cara kita untuk mencintai hidup, untuk bersyukur atas tubuh yang sehat dan sempurna.

Makanan ‘tipu-tipu’ yang ingin saya bicarakan kali ini adalah bakso. Saya menyebutnya ‘tipu-tipu’ karena dalam semangkok bakso terdapat 92 persen tipu muslihat di sana. Mulai dari bintang utamanya dulu, bakso, kita sudah taulah tentang boraks, bahan pengenyal, dan tentu saja penyedap rasa, dan iya, gajih. Yang kesemuanya itu berefek buruk bagi kesehatan, terlebih bila dikonsumsi terus menerus.
Kemudian ke kaldu, itu adalah tipu muslihat yang sebenarnya lebih kasat mata, mudah sekali dipergoki. Air bening yang direbus dan ditambahkan penyedap rasa dan ‘essence of bla bla bla’.

Dan entahlah…

Ini mungkin hanya sesuatu yang tak dapat saya terima, rasa berdosa setelah baru saja menyantap semangkok bakso. Saya merasa berdosa kenapa tidak konsisten pada makanan sehat seperti sayur mayur dan buah-buahan, serta biji-bijian. 😐

Mungkin ini hanya rasa kecewa kenapa bakso yang sebetulnya makanan yang sedap itu terjerumus pada tipu muslihat macam penyedap rasa dan bahan kimia lainnya itu. Kenapa tidak menggunakan rempah-rempah untuk penyedapnya? Apakah pengolahnya begitu malas, atau rempah-rempah susah didapat, atau ini adalah konspirasi wahyudi? 😐

Saya berharap semoga bakso segera menemukan jalannya yang lurus, meninggalkan tipu muslihat dan mensejahterakan lidah dan tubuh. Amin.

Sebenarnya ini berkaitan dengan kondisi tubuh yang kurang enak hari ini.

*Saya sedang tak enak badan, demam. Semalam bertanya pada diri sendiri ingin makan apa, karena memang tak nafsu makan, lalu semalam memanjakan dengan menuruti kehendak hati dengan memakan 6 biji sawo. Akibatnya semalaman justru suhu tubuh naik, berselimut dobel, tetap mengigil. Pasrah sudah pada Tuhan. Untung saat subuh bangun dan keadaan membaik, solat subuh hanya dengan berdiri karena kepala masih pusing kalau untuk sujud. 😐
Dan siang hari ini dilanjutkan bertanya kepada diri, ingin makan apa? Dijawablah  bakso. Pilihan kedua ini pun ternyata meninggalkan rasa berdosa pada tubuh ini. 😐

Akhirnya Mama memasak sayur bayam, wortel, jagung muda dan blonceng (sejenis labu). Terimakasih Mama. 🙂

Laman Berikutnya »

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.